BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BALAKANG
Masa anak-anak
dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira-kira
usia dua tahun sampai saat anak matang secara seksual, yakni kira-kira umur 13
tahun untuk wanita dan 14 tahun untuk bagi pria, terjadi sejumlah perubahan
yang signifikan,baik secara fisik maupun psikologis. Sejumlah ahli membagi masa
anak-anak ke dalam dua periode, yaitu masa anak-anak awal dan masa anak-anak
akhir. Masa anak-anak awal berawal sejak umur 2 tahun sampai 6 tahun, dan masa
anak-anak akhir dari usia 6 tahun sampai saat anak matang secara seksual
(Hurlock, 1980). Dalam makalah ini hanya
akan dibahas perkembangan masa anak-anak awal atau yang sering juga disebut
masa prasekolah. Sedangkan perkembangan masa akhir anak-anak akan dibahas pada
bab yang lain.
B. RUMUSAN
MASALAH
- menjelaskan
perkembangan yang terjadi saat masa anak-anak awal?
- Perkembangan
apa saja yang akan dialami pada saat perkembangan masa anak-anak awal?
- Perubahan
apa saja yang akan terjadi?
BAB
II
POKOK
PEMBAHASAN
A.
PERKEMBANGAN FISIK
Selama masa-masa anak-anak awal, pertumbuhan fisik berlangsung lambat
dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan selama masa bayi. Pertubuhan fisik yang
lambat ini berlangsung sampai mulai munculnya tanda-tanda pubertas, yakni
kira-kira dua tahun menjelang matang secara seksual dan petumbuhan fisik
kembali berkembang pesat. Meskipun selama masa anak-anak pertumbuhna fisik
mengalami perlambatan, namun keterampilan-keterampilan motorik kasar dan
motorik halus justru berkembang pesat.
- TINGGI
DAN BERAT BADAN
Selama masa anak-anak awal, tinggi rata-rata anak bertumbuh 2.5 inci dan
berat bertambah antara 2,5 hingga 3,5 kg setiap tahunnya. Pada usia 3 tahun,
tinggi anak sekitar 38 inci dn beratnya sekitar 16,5 kg. pada usia 5 tahun,
tinggi anak mencapai 43.6 inci dan beratnya 21,5 kg (Mussen, Conger &
Kagan, 1969). Ketika anak usia prasekolah bertumbuh makin besar, prsentase
pertumbuhan dalam dan tinggi berat berkurang setiap tahun. Selama masa ini,
baik laki-laki maupun perempuan terlihat makin langsing, sementara batang tubuh
mereka makin panjang.
- PERKEMBANGAN
OTAK
Di antara perkembangan fisik yang sangat penting selama masa anak-anak
awal ialah perkembangan otak dan system syaraf yang berkelanjutan. Meskipun otak
terus bertumbuh pada masa anak-anak awal, namun pertumbuhannya tidak sepesat pada
masa bayi. Pada saat mencapai usia 2 tahun, ukuran otaknya rata-rata 75% dari
otak orang dewasa, dan pada usia 5 tahun, ukuran otaknya telah mancapai sekitar
90% otak orang dewasa (Yeterian & Pandya, 1988).
- PERKEMBANGAN
MOTORIK
Perkembangan fisik pada masa anak-anak ditandai dengan berkembangnya
keterampilan motorik, baik kasar maupun halus. Sekitar usia tiga tahun, anak
sudah dapat berjalan dengan baik, dan sekitar usia empat tahun anak hampir
menguasai cara berjalan orang dewasa. Usia lima tahun anak sudah terampil
menggunakan kakinya untuk berjalan dengan berbagai cara, seperti maju dan
mundur, jalan cepat dan pelan-pelan, melompat dan berjingkrak, berlari ke sana
dan kemari, memanjat dan sebagainya yang semuanya dilakukan dengan lebih halus
dan bervariasi. Anak usia lima tahun juga dapat melakukan tindakan-tindakan
tertentu secara akurat, seperti menyeimbangkan badan diatas satu kaki,
menangkap bola dengan baik, melukis, menggunting dan melipat kertas, dan
sebagainya.
- PERKEMBANGAN
KOGNITIF
Seiring dengan meningkatnya kemampuan anak untuk mengeksplorasi
lingkungan, karena bertambah besarnya koordinasi dan pengendalian motorik yang
disertai dengan meningkatnya kemampuan untuk bertanya dengan menggunakan
kata-kata yang dapat dimngerti orang lain, maka dunia kognitif anak berkembang
pesat, makin kreatif, bebas, dan imajinatif. Imajinasi anak-anak prasekolah
terus bekerja, dan daya serap mentalnya tentang dunia makin meningkat.
Peningkatan pengertian anak-anak tentang orang, benda dan situasi baru
diasosiasikan dengan arti-arti yang telah dipelajari selama masa bayi.
- 1.
Perkembangan Kognitif Menurut Teori Piaget.
Sesuai dengan teori kognitif Piaget, maka perkembangan kognitif pada masa
awal anak-anak dinamakan tahap praoperasional (Praoperational Stage) ,
yang berlangsung dari usia 2 hingga 7 tahun. Pada tahap ini, konsep yang stabil
dibentuk, penalaran mental muncul, egosentrisme mulai kuat dan kemudian
melemah, serta terbentuknya keyakinan terhadap hal yang magis. Tetapi, sebagai
“pra” dalam istilah “praoperasional”, menunjukkan bahwa pada tahap ini teori
Piaget difokuskan pada keterbatasan pemikiran anak. Istilah operasional
menunjukkan pada aktifitas mental yang memungkinkan anak untuk memikirkan
peristiwa-peristiwa atau pengalaman-pengalaman yang dialaminya.
Subtahap Prakonseptual
(2-4 tahun)
Subtahap prakonseptual disebut juga dengan pemikiran simbolik (symbolic
thought), karena karakteristik utama subtahap ini ditandai dengan munculnya
system-sistem lambang atau symbol, seperti bahasa. Subtahap prakonseptual
merupakan subtahap pemikiran praoperasional yang terjadi kira-kira antara usia
2 hingga 4 tahun. Pada subtahap ini anak-anak mengembangkan kemampuan untuk
menggambarkan atau membayangkan secara mental suatu objek yang tidak ada (tidak
terlihat) dengan sesuatu yang lain. Misalnya, pisau yang terbuat dari plastic
adalah sesuatu yang nyata, mewakili pisau yang sebenarnya. Kata pisau sendriri
bisa mewakili sesuatu yang abstrak, seperti bantuknya dan tajamnya. Demikian
pula tulisan “pisau” akan memberikan tanggapan tertentu. Dengan berkebangnya
kemampuan mensimbolisasikan ini, maka anak memperluas ruang lingkup
aktivitasnya yang menyangkut hal-hal yang sudah lewat, atau hal-hal yang akan
dating, atau juga hal-hal yang sekarang.
Subtahap instuitif
(4-7 tahun)
Istilah instuitif digunakan untuk menunjukkan subtahap ke dua dari
pemikiran praoperasional yang terjadi pada anak dalam periode dari 4 hingga 7
tahun. Dalam subtahap ini, meskipun aktifitas mental tertentu (seperti
cara-cara mengelompokkan, mengukur atau menghubungkan objek-objek) terjadi,
tetapi anak-anak belum begitu sadar mengenai prinsip-prinsip yang melandasi
terbentuknya aktifitas tersebut. Walaupun anak dapat memecahkan masalah yang
berhubungan dengan aktifitas ini, namun ia tidak bisa menjelaskan alas an yang
tepat untuk memecahkan masalah-masalah tertentu dengan cara-cara tertentu.
Jadi, walaupun
symbol-simbol anak meningkat kompleks, namun proses penalaran dan pemikirannya
masih mempunyai cirri-ciri keterbatasan tertentu. Sebagian dari keterbatasan
ini direfleksikan dalam ketidakmampuan anak praoperasional untuk mengelompokkan
beberapa hal berdasarkan dimensi tertentu, seperti mengelompokkan tongkat
menurut urutan dari yang paling pendek ke yang paling panjang. Keterbatasan
juga ditemukan dalam menghubungkan bagian dari keseluruhan.
- PERKEBANGAN
PERSEPSI
Meskipun persepsi sudah berkembang sejak awal kehidupan, namun hingga
masa anak-anak awal atau prasekolah, kemampuan atau kapasitas mereka untuk
memproses informasi masih terbatas. Kadang-kadang anak-anak prasekolah dapat
merasakan stimulus penglihatan dan pendengaran seperti yang dirasakan oleh
orang dewasa, tetapi di lain waktu mereka tidak dapat merasakannya. Anak-anak
prasekolah dapat membuat penilaian perceptual sederhana (seperti membedakan isi
dari dua gelas tadi) sebagai mana yang dapat dilakukan oleh orang dewasa,
sepanjang penilaian itu melibatkan memori atau reoraganisasi kognitif yang
relative kecil. Tetapi penilaian yang membutuhkan pemikiran yang lebih
kompleks, anak prasekolah sering mengalami banyak kesalahan dalam apa yang
mereka dengar dan mereka lihat. Hal ini karena perhatiannya dibelokkan jauh
dari stimulus nyata pada pemprosesan stimulus ini.
- PERKEMBANGAN
MEMORI.
Dibandingkan dengan bayi , mengukur memori anak-anak jauh lebih mudah
karena anak-anak telah dapat memberikan reaksi secara verbal. Meskipun demikian
tugas-tugas anak masih sangat sederhana, karena mungkin anak-anak mengalami
kesulitan dalam memahami perintah-perintah dari tugas itu, dan mereka mungkin
tidak mampu megidentifikasi stimulus tertentu, (seperti huruf alphabet).
- PERKEMBANGAN
ATENSI
Atensi (attention) atau perhatian merupakan sebuah konsep multi
dimensional yang digunakan untuk menggambarkan perbedaan ciri-ciri dan
cara-cara merespon dalam system kognitif (Parkin 2000). Menurut Chaplin (2002),
atensi adala konsentrasi terhadap aktifitas mental. Sedangkan Margaret W.
Matlin (1994), menggunakan istilah atensi untuk merajuk pada konsentrasi
terhadap suatu tugas mental, dimana individu mencoba untuk menidakan stimulus
lain yang mengganggu. Atensi dapat juga merujuk pada penerimaan beberapa pesan
pada suatu waktu dan mengabaikan semua pesan, kecuali pesan tertentu.
Atensi pada anak
telah berkembang sejak masih bayi. Aspek-aspek atensi yang berkembang selama
masa bayi ini memiliki arti yang sangat penting selama tahun-tahun prasekolah.
Penelitian telah menunjukkan bahwa hilangnya atensi (habituation) dan pulihnya
atensi (dishabituation) bila diukur pada enam bulan pertama masa bayi,
berkaitan dengan tingginya kecerdasan pada tahun-tahun prasekolah.
- PERKEMBANGAN
METAKOGNITIF
Sebagai anak yg mulia tumbuh menjadi lebih benar, mereka berusaha
mengetahui tentang pikirannya sendir, tentang bagai mana belajar dan mengingat
situasi-situasi yg dialami setiap hari, dan bagai mana seseorang dapat
meningkatkan penilain kognitif mereke. Para ahli psikologi menyebut tipe
pengetahuan ini dengan metakognitif (metacognitive), yaitu pengetahuan tentang
kognisi (Wellman, 1988). Menurut Margeret W. Matin (1994), metakognitif
adalah’’knowledge and awereness about cognitive processes-or our thoughts about
thinking.’’ Jadi, yg dimaksud dengan meta kognitifadlah pengetahuan dan
kesadaran tentang proses kognisi atau kesadaran kita tentang pemikiran.
Metakognitif merupakan suatu proses menggugah rasa ingin tahu karena kita
menggunakan proses kognitif adalah pengetahuan dan kesadaran tentang proses
kognisi atau kesadaran kita tentang pemikiran.
- PERKEMBANGAN
EMOSI
Perkembangan anak yang dimulai dari masa pranatal hingga masa anak-anak
akhir merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya di masa-masa yang
akan datang. Hal ini seperti dikatakan Freud bahwa kehidupan lima tahun pertama
manusia akan menentukan bagaimana seorang manusia akan menjalani kehidupannya
kelak di masa yang akan datang. Sehingga dapat dilihat betapa pentingnya
perkembangan seseorang itu harus dapat optimal ketika ia berada di masa
kanak-kanak, karena pada masa ini akan menentukan tumbuh kembang dirinya di
tahapan perkembangan kehidupan selanjutnya. Jika pemahaman ini dapat dipahami
oleh seluruh pihak yaitu orang tua, pengasuh, guru serta lingkungan di sekitar
anak tersebut tentang pentingnya perkembangan anak, maka hal ini akan membantu
semua pihak untuk memberikan perlakuan yang tepat kepada anak-anak. Perlakuan
yang tepat ini akan membuat perkembangan emosi pada anak tersebut akan
berkembang dengan baik sesuai dengan perkembangan usia anak tersebut.
Tumbuh kembang seorang anak di masa
anak-anak juga banyak timbul bermacam-macam masalah. Selain masalah yang
terkait dengan masalah fisik, anak juga akan mengalami masalah yang sifatnya
emosional. Masalah-masalah emosional seorang anak ini akan ia tunjukkan lewat
tingkah laku yang dipandang sebagai anak yang bermasalah. Beberapa contoh
masalah emosional pada anak yang sering kali timbul antara lain :
1.
Temper
tantrum tidak pada usianya
2.
Ekspresi emosi
yang tidak tepat
3.
Kecemburuan pada
sibling yang berlebihan
4.
Sulit ditinggal
orang tua untuk bekerja
5.
Berebut mainan
6.
Rendahnya
keterampilan sosialisasi
7.
Dikucilkan oleh
teman
8.
Tidak perduli
dengan orang lain/teman
9.
Bullying di
sekolah dan lingkungan bermain
10. Perkelahian
di sekolah
I.
PERKEMBANGAN
EMOSI PADA ANAK
Sejak
dahulu telah ada usaha yang dilakukan oleh orang tua untuk mendidik anak-anak
mereka sejak dalam kandungan maupun setelah lahir. Apa yang diberikan oleh
orang tua akan merupakan pengalaman awal sang anak yang akan mempengaruhi
kepribadian anak selanjutnya. Hal ini seperti dikatakan dalam teori John Locke
yaitu “empirisme” bahwa manusia lahir bagaikan kertas putih, akan seperti
apakah anak tersebut kelak, akan sangat tergantung dari apa yang dituliskan di
atasnya, yang berarti pengalaman yang didapatkan anak termasuk faktor
pendidikan dan pola asuh orang tua menjadi bahan tulisan yang akan mewarnai
kehidupan serta kualitas diri anak tersebut, yang paling mewarnai dari tulisan
itu adalah tulisan yang pertama yang dilakukan oleh orang tuanya.
Jika
kita mengamati tumbuh kembang seorang anak, maka kita akan sering menemukan
hal-hal baru yang mengagumkan dan yang seringkali justru menimbulkan
dorongan-dorongan baru untuk mempelajari lebih lanjut apa yang terjadi pada
anak-anak. Perkembangan anak pada dasarnya adalah perubahan-perubahan yang
terjadi dalam seluruh dimensi yang ada dalam diri anak baik dimensi fisik,
dimensi social, dimensi emosi, kognitif dan dimensi spiritual.
A.
MEKANISME
EMOSI
Menurut
Lewis and Rose ada 5 tahapan di dalam proses terjadinya emosi di dalam diri
seseorang, yaitu :
1.
Elicitors
yaitu
adanya dorongan peristiwa yang terjadi.
Contoh
: peristiwa gempa bumi, hal ini akan menimbulkan perasaan emosi tertentu
pada seseorang.
2.
Receptors
yaitu
kegiatan yang berpusat pada system syaraf
Contoh : akibat adanya peristiwa banjir maka berfungsi
sebagai indera penerima.
3.
State
yaitu
perubahan spesifik yang terjadi dalam aspek fisiologi.
Contoh : gerakan reflex atau terkejut pada sesuatu
yang terjadi.
4.
Expression
yaitu
terjadinya perubahan pada rasiologis.
Contoh : tubuh tegang pada saat tatap muka
5.
Experience
yaitu
persepsi dan inter individu pada kondisi emosionalnya.
Menurut Syamsudin kelima komponen tadi digambarkan dalam
3 variabel :
1.
Variable
stimulus yaitu rangsangan yang menimbulkan emosi
2.
Variable
organismik yaitu perubahan fisiologis yang terjadi saat mengalami emosi
3.
Variable respon
yaitu ekspresi yang keluar atas terjadinya pengalaman emosi.
Adapun fungsi dan peranan adanya emosi pada perkembangan
anak yaitu :
a)
Emosi merupakan
bentuk komunikasi
b)
Emosi berperan
dalam mempengaruhi kepribadian dan penyesuaian diri anak dengan lingkungan
sosialnya.
c)
Emosi dapat
mempengaruhi iklim psikologis lingkungan.
d)
Tingkah laku
yang sama dan ditampilkan secara berulang dapat menjadi satu kebiasaan.
e)
Ketegangan emosi
yang dimiliki anak dapat menghambat aktivitas motorik dan mental anak.
B.
PERKEMBANGAN
EMOSI
Menurut
Mayer & Salovey (1997) ada beberapa dimensi emotional intelligence yang dikenal dengan sebutan four branch model of emotional intelligence.
Ada 4 dimensi emotional intelligence, yaitu :
1.
Persepsi
Emosi (Empotional Perception)
Yaitu
kemampuan individu untuk mengenali emosi, baik yang dirasakan oleh diri sendiri
maupun oleh orang lain. Sejak bayi sampai dengan awal masa kanak-kanak, anak
mulai belajar untuk mengidentifikasi serta membedakan emosi yang dirasakan oleh
diri sendiri dan orang lain. Pada awalnya, bayi akan belajar untuk membedakan
emosi berdasarkan ekspresi wajah yang ditampilkan, kemudian memberikan respon
terhadap reaksi tersebut. Semakin bayi tersebut besar maka ia akan semakin
akurat dalam mengidentifikasi sensasi tubuh yang dirasakannya baik oleh dirinya
maupun oleh lingkungannya. Pada perkembangannya anak akhirnya mulai memberikan
atribut mengenai perasaan pada benda hidup maupun benda mati. Ia akan
menggunakan pengalamannya pada saat merasakan sensasi tertentu dalam mengenali
sensasi yang dirasakan oleh orang lain.
Kemudian
kemampuan individu ini dalam memahami emosi yang dirasakannya sampai pada tahap
ia mampu mengekspresikan perasaan secara akurat dan mengekspresikan kebutuhan
akan perasaannya. Ia juga akan menjadi lebih sensitive terhadap ekspresi emosi
yang tidak sesuai atau yang dimanipulasi.
2.
Integrasi
Emosi (Emotional Integration)
Adalah
kemampuan individu dalam memanfaatkan sensasi emosi yang dirasakan untuk
menghadapi masalah-masalah yang berkenaan dengan system kognisi. Emosi
bertindak sebagai suatu system yang memberikan tanda atau sinyal-sinyal
tertentu sejak lahir. Semakin matang, sinyal-sinyal tersebut mulai dapat
dimanfaatkan dalam aktivitas kognisi yaitu dengan cara mengarahkan perhatian
pada hal-hal yang penting.
Individu
akan mencoba untuk menempatkan dirinya pada posisi orang lain yang merasakan
sensasi emosi tertentu dan mencoba untuk merasakan emosi tersebut pada dirinya
sendiri ketika dimintai pendapat mengenai emosi yang dirasakan oleh suatu
karakter pada sebuah cerita atau pada saat diminta untuk menentukan emosi yang
dirasakan oleh orang lain. Dengan kata lain terdapat sebuah proses dimana emosi
dapat dihasilkan, dirasakan, dimanipulasi serta diuji sehingga emosi tersebut
dapat lebih mudah untuk dipahami. Semakin akurat individu merasakan sensasi
emosi dan semakin ralistis proses tersebut terjadi, individu akan semakin
terbantu untuk melakukan pilihan-pilihan dalam kehidupan.
3.
Pemahaman
Emosi (Emotional Understanding)
Adalah
kemampuan individu untuk memahami emosi yang dirasakan dan dapat menggunakan
pengetahuan mengenai emosi yang dirasakan untuk mengetahui bagaimana
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Setelah individu menyadari emosi yang
dirasakan, ia mulai untuk memberi nama dan menyadari hubungan yang terjadi
diantara emosi-emosi yang telah ia beri nama serta menyadari persamaan dan
perbedaan yang mendasari terjadinya emosi tersebut.
Secara
bersamaan, individu juga belajar untuk memahami emosi yang dirasakan pada saat
ia berinteraksi dengan orang lain. Pengetahuan mengenai emosi yang dirasakan
sejak masa kanak-kanak ini akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu,
dimana individu akan semakin memahami arti dari emosi-emosi tersebut. Individu
mulai menyadari adanya emosi yang kompleks dan kontradiktif pada beberapa
situasi tertentu dimana kombinasi atau percampuran antara beberapa emosi sudah
mulai terbentuk. Emosi biasanya terbentuk seperti rangkaian rantai yang
berpola. Misalnya rasa marah akan diikuti dengan perilaku marah-marah yang
diekspresikan, kemudian akan diikuti dengan rasa puas atau perasaan bersalah,
tergantung pada situasi yang sedang ia hadapi. Maka individu akan memiliki
alasan tersendiri pada saat ia menampilkan suatu urutan emosi.
4.
Pengaturan
Emosi (Emotional Management)
Adalah kemampuan individu di dalam
memadukan data-data mengenai emosi yang dirasakan oleh diri sendiri maupun
orang lain untuk menentukan tingkah laku yang paling efektif yang akan
ditampilkan pada saat berinteraksi dengan orang lain. Individu diharapkan
terbuka dan memiliki toleransi pada reaksi emosi yang timbul, baik reaksi emosi
yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Hal ini dapat menjadi
pembelajaran untuk dapat melakukan regulasi emosi ketika merasakan sensasi
emosi yang sama dalam suatu situasi tertentu.
Anak akan menginternalisasikan
pembagian antara perasaan dan tindakan. Anak mulai belajar bahwa emosi dapat
dipisahkan dari tingkah laku. Hal ini akan membantu individu untuk dapat
menampilkan tingkah laku yang sesuai dengan tuntutan lingkungan meskipun ia
merasakan sensasi emosi yang tidak menyenangkan. Semakin matang maka individu
akan semakin mampu untuk meregulasi emosi yang dirasakan. Dengan demikian
pengaturan emosi individu dikatakan optimal bila ia mampu untuk mengatur dan
memahami emosi yang dirasakan tanpa perlu membesar-besarkan atau meminimalisir
kepentingannya.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Masa
anak-anak merupakan masa yang sangat signifikan dalam perkembangan kehidupan
manusia. Seperti dikatakan oleh Freud dan John Locke, mereka mengatakan bahwa
masa lima tahun pertama manusia yaitu masa anak-anak merupakan masa yang
menentukan bagaimana ia menjalani kehidupan selanjutnya.
Masa anak
ini adalah masa yang sangat rentan terhadap hal-hal negative yang dapat
mengganggu perkembangan individu. Jika tugas-tugas perkembangan pada masa anak
tidak dapat dipenuhi oleh individu, maka pada tahap-tahap perkembangan
selanjutnya individu akan mengalami masalah. Masalah-masalah emosional pada
anak dewasa ini cukup banyak dan hal itu yang menjadi keluhan dari para orang
tua, seperti ekspresi emosi yang tidak tepat, kecemburuan pada sibling yang
berlebihan, dll.
Adapun
solusi dalam mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut sebenernya adalah :
1.
Dari awal sudah
mengenalkan anak akan perasaannya maupun ekspresi perasaannya.
2.
Melatih anak
untuk mengenali perasaannya.
3.
Mengintegrasikan
perasaan-perasaannya.
4.
Memahami
perasaan anak saat ia menemui hambatan-hambatan ataupun masalah-masalah.
5.
Membantunya
untuk mengatasi perasaan yang dia rasakan saat dia menemui masalah dan hambatan
tersebut.
6.
Tidak menghakimi
dia akan perasaan yang dia rasakan dan temui ketika ada masalah tersebut.
7.
Membantu dia
memberi keyakinan dan menumbuhkan rasa kepercayaan pada dirinya untuk berani
mengungkapkan perasaan yang dia rasakan dan apa yang jadi pendapatnya.
Ke semua
ini akan membantu anak dalam bersosialisasi dengan orang lain. Orang tua juga
harus menyadari bahwa ia adalah figure panutan bagi anak, sehingga apapun yang
dilakukan oleh orang tua akan mereka jadikan contoh bagi kehidupannya kelak.
Oleh karenanya pemahaman dan keterampilan kecerdasan emosional sebaiknya
dipahami dan dicontohkan oleh orang tua agar anak memiliki role model yang
positif. Jika perkembangan emosi seseorang yang dimulai dari sejak dini sudah
berkembang dengan optimal dan sesuai dengan perkembangan usianya maka tingkat
pengontrolan emosinya akan bisa berkembang dengan optimal pula dan pemahamannya
terhadap kepribadiannya akan jauh lebih baik dan meningkat seiring dengan
usianya tersebut. Dia tidak akan banyak kesulitan dalam mengatasi dan
menyelesaikan hambatan-hambatan yang ia dapatkan pada setiap fase-fase yang ia
lewati.
B. KRITIK DAN SARAN.
Kritik dan saran dari para pembaca selalu saya harapkan
demi kesempurnaan penyusunan makalah berikutnya, demikian yang dapat saya
paparkan kurang lebihnya mohon maaf.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Hurlock, Elizabeth. B.1980. Developmental Psychology A life Span
Approach, fifth edition. New Delhi : Tata McGraw-Hill Publishing Company
Ltd.
2.
Hall, Lindzey
& Campbell. 1998. Theories of
Personality, fourth edition. New York : John Wiley & Sons, Inc.
3.
Salovey, P.
bracket & Mayer, M.A.2004. Emotional Intelligence. New York : National
Professional Resources, Inc.
4.
Purba, Frederick
Dermawan, S.Psi. 2007. Makalah Mengembangkan
Kecerdasan Emosional Pada Anak. Surabaya : Temu Ilmiah IPPI – IPS Fakultas
Psikologi Universitas Airlangga.
5.
Valmband, 2008.
Artikel : Perkembangan Emosi.
6.
Reza, Muhammad.
Maisarah. Arif Maulana R, Ronaldo A.P. Frista Adytia, 2010. Artikel : Hambatan Perkembangan Emosi Pada Anak Dan
Intervensi, Psiko – News.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar