Selasa, 24 Februari 2015

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BALAKANG
Masa anak-anak dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia dua tahun sampai saat anak matang secara seksual, yakni kira-kira umur 13 tahun untuk wanita dan 14 tahun untuk bagi pria, terjadi sejumlah perubahan yang signifikan,baik secara fisik maupun psikologis. Sejumlah ahli membagi masa anak-anak ke dalam dua periode, yaitu masa anak-anak awal dan masa anak-anak akhir. Masa anak-anak awal berawal sejak umur 2 tahun sampai 6 tahun, dan masa anak-anak akhir dari usia 6 tahun sampai saat anak matang secara seksual (Hurlock,  1980). Dalam makalah ini hanya akan dibahas perkembangan masa anak-anak awal atau yang sering juga disebut masa prasekolah. Sedangkan perkembangan masa akhir anak-anak akan dibahas pada bab yang lain.
B. RUMUSAN MASALAH
  1. menjelaskan perkembangan yang terjadi saat masa anak-anak awal?
  2. Perkembangan apa saja yang akan dialami pada saat perkembangan masa anak-anak awal?
  3. Perubahan apa saja yang akan terjadi?

























BAB II
POKOK PEMBAHASAN

A.    PERKEMBANGAN FISIK
Selama masa-masa anak-anak awal, pertumbuhan fisik berlangsung lambat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan selama masa bayi. Pertubuhan fisik yang lambat ini berlangsung sampai mulai munculnya tanda-tanda pubertas, yakni kira-kira dua tahun menjelang matang secara seksual dan petumbuhan fisik kembali berkembang pesat. Meskipun selama masa anak-anak pertumbuhna fisik mengalami perlambatan, namun keterampilan-keterampilan motorik kasar dan motorik halus justru berkembang pesat.
  1. TINGGI DAN BERAT BADAN
Selama masa anak-anak awal, tinggi rata-rata anak bertumbuh 2.5 inci dan berat bertambah antara 2,5 hingga 3,5 kg setiap tahunnya. Pada usia 3 tahun, tinggi anak sekitar 38 inci dn beratnya sekitar 16,5 kg. pada usia 5 tahun, tinggi anak mencapai 43.6 inci dan beratnya 21,5 kg (Mussen, Conger & Kagan, 1969). Ketika anak usia prasekolah bertumbuh makin besar, prsentase pertumbuhan dalam dan tinggi berat berkurang setiap tahun. Selama masa ini, baik laki-laki maupun perempuan terlihat makin langsing, sementara batang tubuh mereka makin panjang.
  1. PERKEMBANGAN OTAK
Di antara perkembangan fisik yang sangat penting selama masa anak-anak awal ialah perkembangan otak dan system syaraf yang berkelanjutan. Meskipun otak terus bertumbuh pada masa anak-anak awal, namun pertumbuhannya tidak sepesat pada masa bayi. Pada saat mencapai usia 2 tahun, ukuran otaknya rata-rata 75% dari otak orang dewasa, dan pada usia 5 tahun, ukuran otaknya telah mancapai sekitar 90% otak orang dewasa (Yeterian & Pandya, 1988).

  1. PERKEMBANGAN MOTORIK
Perkembangan fisik pada masa anak-anak ditandai dengan berkembangnya keterampilan motorik, baik kasar maupun halus. Sekitar usia tiga tahun, anak sudah dapat berjalan dengan baik, dan sekitar usia empat tahun anak hampir menguasai cara berjalan orang dewasa. Usia lima tahun anak sudah terampil menggunakan kakinya untuk berjalan dengan berbagai cara, seperti maju dan mundur, jalan cepat dan pelan-pelan, melompat dan berjingkrak, berlari ke sana dan kemari, memanjat dan sebagainya yang semuanya dilakukan dengan lebih halus dan bervariasi. Anak usia lima tahun juga dapat melakukan tindakan-tindakan tertentu secara akurat, seperti menyeimbangkan badan diatas satu kaki, menangkap bola dengan baik, melukis, menggunting dan melipat kertas, dan sebagainya.

  1. PERKEMBANGAN KOGNITIF
Seiring dengan meningkatnya kemampuan anak untuk mengeksplorasi lingkungan, karena bertambah besarnya koordinasi dan pengendalian motorik yang disertai dengan meningkatnya kemampuan untuk bertanya dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimngerti orang lain, maka dunia kognitif anak berkembang pesat, makin kreatif, bebas, dan imajinatif. Imajinasi anak-anak prasekolah terus bekerja, dan daya serap mentalnya tentang dunia makin meningkat. Peningkatan pengertian anak-anak tentang orang, benda dan situasi baru diasosiasikan dengan arti-arti yang telah dipelajari selama masa bayi.

  1. 1. Perkembangan Kognitif Menurut Teori Piaget.
Sesuai dengan teori kognitif Piaget, maka perkembangan kognitif pada masa awal anak-anak dinamakan tahap praoperasional (Praoperational Stage) , yang berlangsung dari usia 2 hingga 7 tahun. Pada tahap ini, konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul, egosentrisme mulai kuat dan kemudian melemah, serta terbentuknya keyakinan terhadap hal yang magis. Tetapi, sebagai “pra” dalam istilah “praoperasional”, menunjukkan bahwa pada tahap ini teori Piaget difokuskan pada keterbatasan pemikiran anak. Istilah operasional menunjukkan pada aktifitas mental yang memungkinkan anak untuk memikirkan peristiwa-peristiwa atau pengalaman-pengalaman yang dialaminya.

Subtahap Prakonseptual (2-4 tahun)
Subtahap prakonseptual disebut juga dengan pemikiran simbolik (symbolic thought), karena karakteristik utama subtahap ini ditandai dengan munculnya system-sistem lambang atau symbol, seperti bahasa. Subtahap prakonseptual merupakan subtahap pemikiran praoperasional yang terjadi kira-kira antara usia 2 hingga 4 tahun. Pada subtahap ini anak-anak mengembangkan kemampuan untuk menggambarkan atau membayangkan secara mental suatu objek yang tidak ada (tidak terlihat) dengan sesuatu yang lain. Misalnya, pisau yang terbuat dari plastic adalah sesuatu yang nyata, mewakili pisau yang sebenarnya. Kata pisau sendriri bisa mewakili sesuatu yang abstrak, seperti bantuknya dan tajamnya. Demikian pula tulisan “pisau” akan memberikan tanggapan tertentu. Dengan berkebangnya kemampuan mensimbolisasikan ini, maka anak memperluas ruang lingkup aktivitasnya yang menyangkut hal-hal yang sudah lewat, atau hal-hal yang akan dating, atau juga hal-hal yang sekarang.

Subtahap instuitif (4-7 tahun)
Istilah instuitif digunakan untuk menunjukkan subtahap ke dua dari pemikiran praoperasional yang terjadi pada anak dalam periode dari 4 hingga 7 tahun. Dalam subtahap ini, meskipun aktifitas mental tertentu (seperti cara-cara mengelompokkan, mengukur atau menghubungkan objek-objek) terjadi, tetapi anak-anak belum begitu sadar mengenai prinsip-prinsip yang melandasi terbentuknya aktifitas tersebut. Walaupun anak dapat memecahkan masalah yang berhubungan dengan aktifitas ini, namun ia tidak bisa menjelaskan alas an yang tepat untuk memecahkan masalah-masalah tertentu dengan cara-cara tertentu.
Jadi, walaupun symbol-simbol anak meningkat kompleks, namun proses penalaran dan pemikirannya masih mempunyai cirri-ciri keterbatasan tertentu. Sebagian dari keterbatasan ini direfleksikan dalam ketidakmampuan anak praoperasional untuk mengelompokkan beberapa hal berdasarkan dimensi tertentu, seperti mengelompokkan tongkat menurut urutan dari yang paling pendek ke yang paling panjang. Keterbatasan juga ditemukan dalam menghubungkan bagian dari keseluruhan.


  1. PERKEBANGAN PERSEPSI
Meskipun persepsi sudah berkembang sejak awal kehidupan, namun hingga masa anak-anak awal atau prasekolah, kemampuan atau kapasitas mereka untuk memproses informasi masih terbatas. Kadang-kadang anak-anak prasekolah dapat merasakan stimulus penglihatan dan pendengaran seperti yang dirasakan oleh orang dewasa, tetapi di lain waktu mereka tidak dapat merasakannya. Anak-anak prasekolah dapat membuat penilaian perceptual sederhana (seperti membedakan isi dari dua gelas tadi) sebagai mana yang dapat dilakukan oleh orang dewasa, sepanjang penilaian itu melibatkan memori atau reoraganisasi kognitif yang relative kecil. Tetapi penilaian yang membutuhkan pemikiran yang lebih kompleks, anak prasekolah sering mengalami banyak kesalahan dalam apa yang mereka dengar dan mereka lihat. Hal ini karena perhatiannya dibelokkan jauh dari stimulus nyata pada pemprosesan stimulus ini.

  1. PERKEMBANGAN MEMORI.
Dibandingkan dengan bayi , mengukur memori anak-anak jauh lebih mudah karena anak-anak telah dapat memberikan reaksi secara verbal. Meskipun demikian tugas-tugas anak masih sangat sederhana, karena mungkin anak-anak mengalami kesulitan dalam memahami perintah-perintah dari tugas itu, dan mereka mungkin tidak mampu megidentifikasi stimulus tertentu, (seperti huruf alphabet).

  1. PERKEMBANGAN ATENSI
Atensi (attention) atau perhatian merupakan sebuah konsep multi dimensional yang digunakan untuk menggambarkan perbedaan ciri-ciri dan cara-cara merespon dalam system kognitif (Parkin 2000). Menurut Chaplin (2002), atensi adala konsentrasi terhadap aktifitas mental. Sedangkan Margaret W. Matlin (1994), menggunakan istilah atensi untuk merajuk pada konsentrasi terhadap suatu tugas mental, dimana individu mencoba untuk menidakan stimulus lain yang mengganggu. Atensi dapat juga merujuk pada penerimaan beberapa pesan pada suatu waktu dan mengabaikan semua pesan, kecuali pesan tertentu.  
Atensi pada anak telah berkembang sejak masih bayi. Aspek-aspek atensi yang berkembang selama masa bayi ini memiliki arti yang sangat penting selama tahun-tahun prasekolah. Penelitian telah menunjukkan bahwa hilangnya atensi (habituation) dan pulihnya atensi (dishabituation) bila diukur pada enam bulan pertama masa bayi, berkaitan dengan tingginya kecerdasan pada tahun-tahun prasekolah.

  1. PERKEMBANGAN METAKOGNITIF
Sebagai anak yg mulia tumbuh menjadi lebih benar, mereka berusaha mengetahui tentang pikirannya sendir, tentang bagai mana belajar dan mengingat situasi-situasi yg dialami setiap hari, dan bagai mana seseorang dapat meningkatkan penilain kognitif mereke. Para ahli psikologi menyebut tipe pengetahuan ini dengan metakognitif (metacognitive), yaitu pengetahuan tentang kognisi (Wellman, 1988). Menurut Margeret W. Matin (1994), metakognitif adalah’’knowledge and awereness about cognitive processes-or our thoughts about thinking.’’ Jadi, yg dimaksud dengan meta kognitifadlah pengetahuan dan kesadaran tentang proses kognisi atau kesadaran kita tentang pemikiran. Metakognitif merupakan suatu proses menggugah rasa ingin tahu karena kita menggunakan proses kognitif adalah pengetahuan dan kesadaran tentang proses kognisi atau kesadaran kita tentang pemikiran.
  1. PERKEMBANGAN EMOSI
Perkembangan anak yang dimulai dari masa pranatal hingga masa anak-anak akhir merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya di masa-masa yang akan datang. Hal ini seperti dikatakan Freud bahwa kehidupan lima tahun pertama manusia akan menentukan bagaimana seorang manusia akan menjalani kehidupannya kelak di masa yang akan datang. Sehingga dapat dilihat betapa pentingnya perkembangan seseorang itu harus dapat optimal ketika ia berada di masa kanak-kanak, karena pada masa ini akan menentukan tumbuh kembang dirinya di tahapan perkembangan kehidupan selanjutnya. Jika pemahaman ini dapat dipahami oleh seluruh pihak yaitu orang tua, pengasuh, guru serta lingkungan di sekitar anak tersebut tentang pentingnya perkembangan anak, maka hal ini akan membantu semua pihak untuk memberikan perlakuan yang tepat kepada anak-anak. Perlakuan yang tepat ini akan membuat perkembangan emosi pada anak tersebut akan berkembang dengan baik sesuai dengan perkembangan usia anak tersebut.
            Tumbuh kembang seorang anak di masa anak-anak juga banyak timbul bermacam-macam masalah. Selain masalah yang terkait dengan masalah fisik, anak juga akan mengalami masalah yang sifatnya emosional. Masalah-masalah emosional seorang anak ini akan ia tunjukkan lewat tingkah laku yang dipandang sebagai anak yang bermasalah. Beberapa contoh masalah emosional pada anak yang sering kali timbul antara lain :
1.      Temper tantrum tidak pada usianya
2.      Ekspresi emosi yang tidak tepat
3.      Kecemburuan pada sibling yang berlebihan
4.      Sulit ditinggal orang tua untuk bekerja
5.      Berebut mainan
6.      Rendahnya keterampilan sosialisasi
7.      Dikucilkan oleh teman
8.      Tidak perduli dengan orang lain/teman
9.      Bullying di sekolah dan lingkungan bermain
10.  Perkelahian di sekolah

I.             PERKEMBANGAN EMOSI PADA ANAK
         Sejak dahulu telah ada usaha yang dilakukan oleh orang tua untuk mendidik anak-anak mereka sejak dalam kandungan maupun setelah lahir. Apa yang diberikan oleh orang tua akan merupakan pengalaman awal sang anak yang akan mempengaruhi kepribadian anak selanjutnya. Hal ini seperti dikatakan dalam teori John Locke yaitu “empirisme” bahwa manusia lahir bagaikan kertas putih, akan seperti apakah anak tersebut kelak, akan sangat tergantung dari apa yang dituliskan di atasnya, yang berarti pengalaman yang didapatkan anak termasuk faktor pendidikan dan pola asuh orang tua menjadi bahan tulisan yang akan mewarnai kehidupan serta kualitas diri anak tersebut, yang paling mewarnai dari tulisan itu adalah tulisan yang pertama yang dilakukan oleh orang tuanya.
         Jika kita mengamati tumbuh kembang seorang anak, maka kita akan sering menemukan hal-hal baru yang mengagumkan dan yang seringkali justru menimbulkan dorongan-dorongan baru untuk mempelajari lebih lanjut apa yang terjadi pada anak-anak. Perkembangan anak pada dasarnya adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam seluruh dimensi yang ada dalam diri anak baik dimensi fisik, dimensi social, dimensi emosi, kognitif dan dimensi spiritual.
A.             MEKANISME EMOSI
           Menurut Lewis and Rose ada 5 tahapan di dalam proses terjadinya emosi di dalam diri seseorang, yaitu :


1.            Elicitors yaitu adanya dorongan peristiwa yang terjadi.
           Contoh : peristiwa gempa bumi, hal ini akan menimbulkan perasaan emosi tertentu pada  seseorang.
2.            Receptors yaitu kegiatan yang berpusat pada system syaraf
Contoh : akibat adanya peristiwa banjir maka berfungsi sebagai indera penerima.
3.            State yaitu perubahan spesifik yang terjadi dalam aspek fisiologi.
Contoh : gerakan reflex atau terkejut pada sesuatu yang terjadi.
4.            Expression yaitu terjadinya perubahan pada rasiologis.
Contoh : tubuh tegang pada saat tatap muka
5.            Experience yaitu persepsi dan inter individu pada kondisi emosionalnya.
Menurut Syamsudin kelima komponen tadi digambarkan dalam 3 variabel :
1.            Variable stimulus yaitu rangsangan yang menimbulkan emosi
2.            Variable organismik yaitu perubahan fisiologis yang terjadi saat mengalami emosi
3.            Variable respon yaitu ekspresi yang keluar atas terjadinya pengalaman emosi.
Adapun fungsi dan peranan adanya emosi pada perkembangan anak yaitu :
a)            Emosi merupakan bentuk komunikasi
b)            Emosi berperan dalam mempengaruhi kepribadian dan penyesuaian diri anak dengan lingkungan sosialnya.
c)            Emosi dapat mempengaruhi iklim psikologis lingkungan.
d)           Tingkah laku yang sama dan ditampilkan secara berulang dapat menjadi satu kebiasaan.
e)            Ketegangan emosi yang dimiliki anak dapat menghambat aktivitas motorik dan mental anak.
B.           PERKEMBANGAN EMOSI
         Menurut Mayer & Salovey (1997) ada beberapa dimensi emotional intelligence yang dikenal dengan sebutan four branch model of emotional intelligence. Ada 4 dimensi emotional intelligence, yaitu :
1.            Persepsi Emosi (Empotional Perception)
         Yaitu kemampuan individu untuk mengenali emosi, baik yang dirasakan oleh diri sendiri maupun oleh orang lain. Sejak bayi sampai dengan awal masa kanak-kanak, anak mulai belajar untuk mengidentifikasi serta membedakan emosi yang dirasakan oleh diri sendiri dan orang lain. Pada awalnya, bayi akan belajar untuk membedakan emosi berdasarkan ekspresi wajah yang ditampilkan, kemudian memberikan respon terhadap reaksi tersebut. Semakin bayi tersebut besar maka ia akan semakin akurat dalam mengidentifikasi sensasi tubuh yang dirasakannya baik oleh dirinya maupun oleh lingkungannya. Pada perkembangannya anak akhirnya mulai memberikan atribut mengenai perasaan pada benda hidup maupun benda mati. Ia akan menggunakan pengalamannya pada saat merasakan sensasi tertentu dalam mengenali sensasi yang dirasakan oleh orang lain.
         Kemudian kemampuan individu ini dalam memahami emosi yang dirasakannya sampai pada tahap ia mampu mengekspresikan perasaan secara akurat dan mengekspresikan kebutuhan akan perasaannya. Ia juga akan menjadi lebih sensitive terhadap ekspresi emosi yang tidak sesuai atau yang dimanipulasi.
2.            Integrasi Emosi (Emotional Integration)
         Adalah kemampuan individu dalam memanfaatkan sensasi emosi yang dirasakan untuk menghadapi masalah-masalah yang berkenaan dengan system kognisi. Emosi bertindak sebagai suatu system yang memberikan tanda atau sinyal-sinyal tertentu sejak lahir. Semakin matang, sinyal-sinyal tersebut mulai dapat dimanfaatkan dalam aktivitas kognisi yaitu dengan cara mengarahkan perhatian pada hal-hal yang penting.
         Individu akan mencoba untuk menempatkan dirinya pada posisi orang lain yang merasakan sensasi emosi tertentu dan mencoba untuk merasakan emosi tersebut pada dirinya sendiri ketika dimintai pendapat mengenai emosi yang dirasakan oleh suatu karakter pada sebuah cerita atau pada saat diminta untuk menentukan emosi yang dirasakan oleh orang lain. Dengan kata lain terdapat sebuah proses dimana emosi dapat dihasilkan, dirasakan, dimanipulasi serta diuji sehingga emosi tersebut dapat lebih mudah untuk dipahami. Semakin akurat individu merasakan sensasi emosi dan semakin ralistis proses tersebut terjadi, individu akan semakin terbantu untuk melakukan pilihan-pilihan dalam kehidupan.
3.            Pemahaman Emosi (Emotional Understanding)
         Adalah kemampuan individu untuk memahami emosi yang dirasakan dan dapat menggunakan pengetahuan mengenai emosi yang dirasakan untuk mengetahui bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Setelah individu menyadari emosi yang dirasakan, ia mulai untuk memberi nama dan menyadari hubungan yang terjadi diantara emosi-emosi yang telah ia beri nama serta menyadari persamaan dan perbedaan yang mendasari terjadinya emosi tersebut.
         Secara bersamaan, individu juga belajar untuk memahami emosi yang dirasakan pada saat ia berinteraksi dengan orang lain. Pengetahuan mengenai emosi yang dirasakan sejak masa kanak-kanak ini akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu, dimana individu akan semakin memahami arti dari emosi-emosi tersebut. Individu mulai menyadari adanya emosi yang kompleks dan kontradiktif pada beberapa situasi tertentu dimana kombinasi atau percampuran antara beberapa emosi sudah mulai terbentuk. Emosi biasanya terbentuk seperti rangkaian rantai yang berpola. Misalnya rasa marah akan diikuti dengan perilaku marah-marah yang diekspresikan, kemudian akan diikuti dengan rasa puas atau perasaan bersalah, tergantung pada situasi yang sedang ia hadapi. Maka individu akan memiliki alasan tersendiri pada saat ia menampilkan suatu urutan emosi.
4.            Pengaturan Emosi (Emotional Management)
Adalah kemampuan individu di dalam memadukan data-data mengenai emosi yang dirasakan oleh diri sendiri maupun orang lain untuk menentukan tingkah laku yang paling efektif yang akan ditampilkan pada saat berinteraksi dengan orang lain. Individu diharapkan terbuka dan memiliki toleransi pada reaksi emosi yang timbul, baik reaksi emosi yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Hal ini dapat menjadi pembelajaran untuk dapat melakukan regulasi emosi ketika merasakan sensasi emosi yang sama dalam suatu situasi tertentu.
Anak akan menginternalisasikan pembagian antara perasaan dan tindakan. Anak mulai belajar bahwa emosi dapat dipisahkan dari tingkah laku. Hal ini akan membantu individu untuk dapat menampilkan tingkah laku yang sesuai dengan tuntutan lingkungan meskipun ia merasakan sensasi emosi yang tidak menyenangkan. Semakin matang maka individu akan semakin mampu untuk meregulasi emosi yang dirasakan. Dengan demikian pengaturan emosi individu dikatakan optimal bila ia mampu untuk mengatur dan memahami emosi yang dirasakan tanpa perlu membesar-besarkan atau meminimalisir kepentingannya.




































BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
         Masa anak-anak merupakan masa yang sangat signifikan dalam perkembangan kehidupan manusia. Seperti dikatakan oleh Freud dan John Locke, mereka mengatakan bahwa masa lima tahun pertama manusia yaitu masa anak-anak merupakan masa yang menentukan bagaimana ia menjalani kehidupan selanjutnya.
         Masa anak ini adalah masa yang sangat rentan terhadap hal-hal negative yang dapat mengganggu perkembangan individu. Jika tugas-tugas perkembangan pada masa anak tidak dapat dipenuhi oleh individu, maka pada tahap-tahap perkembangan selanjutnya individu akan mengalami masalah. Masalah-masalah emosional pada anak dewasa ini cukup banyak dan hal itu yang menjadi keluhan dari para orang tua, seperti ekspresi emosi yang tidak tepat, kecemburuan pada sibling yang berlebihan, dll.
         Adapun solusi dalam mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut sebenernya adalah :
1.            Dari awal sudah mengenalkan anak akan perasaannya maupun ekspresi perasaannya.
2.            Melatih anak untuk mengenali perasaannya.
3.            Mengintegrasikan perasaan-perasaannya.
4.            Memahami perasaan anak saat ia menemui hambatan-hambatan ataupun masalah-masalah.
5.            Membantunya untuk mengatasi perasaan yang dia rasakan saat dia menemui masalah dan hambatan tersebut.
6.            Tidak menghakimi dia akan perasaan yang dia rasakan dan temui ketika ada masalah tersebut.
7.            Membantu dia memberi keyakinan dan menumbuhkan rasa kepercayaan pada dirinya untuk berani mengungkapkan perasaan yang dia rasakan dan apa yang jadi pendapatnya.
         Ke semua ini akan membantu anak dalam bersosialisasi dengan orang lain. Orang tua juga harus menyadari bahwa ia adalah figure panutan bagi anak, sehingga apapun yang dilakukan oleh orang tua akan mereka jadikan contoh bagi kehidupannya kelak. Oleh karenanya pemahaman dan keterampilan kecerdasan emosional sebaiknya dipahami dan dicontohkan oleh orang tua agar anak memiliki role model yang positif. Jika perkembangan emosi seseorang yang dimulai dari sejak dini sudah berkembang dengan optimal dan sesuai dengan perkembangan usianya maka tingkat pengontrolan emosinya akan bisa berkembang dengan optimal pula dan pemahamannya terhadap kepribadiannya akan jauh lebih baik dan meningkat seiring dengan usianya tersebut. Dia tidak akan banyak kesulitan dalam mengatasi dan menyelesaikan hambatan-hambatan yang ia dapatkan pada setiap fase-fase yang ia lewati.
B.  KRITIK DAN SARAN.
Kritik dan saran dari para pembaca selalu saya harapkan demi kesempurnaan penyusunan makalah berikutnya, demikian yang dapat saya paparkan kurang lebihnya mohon maaf.
































DAFTAR PUSTAKA

1.       Hurlock, Elizabeth. B.1980. Developmental Psychology A life Span Approach, fifth edition. New Delhi : Tata McGraw-Hill Publishing Company Ltd.
2.      Hall, Lindzey & Campbell. 1998. Theories of Personality, fourth edition. New York : John Wiley & Sons, Inc.
3.      Salovey, P. bracket & Mayer, M.A.2004. Emotional Intelligence. New York : National Professional Resources, Inc.
4.      Purba, Frederick Dermawan, S.Psi. 2007. Makalah Mengembangkan Kecerdasan Emosional Pada Anak. Surabaya : Temu Ilmiah IPPI – IPS Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.
5.      Valmband, 2008. Artikel : Perkembangan Emosi.
6.      Reza, Muhammad. Maisarah. Arif Maulana R, Ronaldo A.P. Frista Adytia, 2010. Artikel : Hambatan Perkembangan Emosi Pada Anak Dan Intervensi, Psiko – News.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar