BAB I
PENDAHULUAN
Pengetahuan dan
keterampilan sebagai hasil belajar pada masa lalu seringkali mempengaruhi
proses belajar yang sedang dialaminya sekarang. Inilah yang disebut transfer
dalam belajar.
Transfer
belajar yang lazim disebut transfer belajar (transfer of learning) itu
mengandung arti pemindahan keterampilan hasil belajar dari satu situasi ke
situasi lainnya (Reber 1988). Kata pemindahan keterampilan tidak berkonotasi
hilangnya keterampilan melakukan sesuatu pada masa lalu karena diganti dengan keterampilan
baru pada masa sekarang. Oleh karena itu, definisi diatas harus dipahami
sebagai pemindahan pengaruh atau pengaruh keterampilan melakukan sesuatu
terhadap tercapainya keterampilan melakukan sesuatu yang lainnya.
Peristiwa
pemindahan pengaruh (transfer) sebagaimana tersebut di atas pada umumnya atau
hampir selalu membawa dampak baik positif maupun negatif terhadap aktivitas dan
hasil pembelajaran materi pelajar atau keterampilan lain. Sehingga, transfer
dapat dibagi menjadi dua kategori, yakni transfer positif dan transfer negaif.
Menurut Theory
of Indentical Element yang dikembangkan oleh E.L. thorndike, transfer
positif biasanya terjadi karena ada kesamaan elemen antara materi yang lama
dengan materi yang baru. Sedangkan transfer negatif, yaitu keterampilan yang
sebelumnya sudah dimiliki menjadi penghambat belajar keterampilan yang baru
atau lainnya. Dapatkah teori E.L. thorndike ini kita jadikan pedoman dalam
memahami transfer dalam memahami transfer belajar yang hakiki?
Selanjutnya,
menurut Gegne (baca: Gaenye) seorang education psychologist (pakar psikologi
pendidikan) yang masyhur, transfer dalam belajar dapat digolongkan kedalam
empat kategori.
1.
Transfer
positif
2.
Transfer
negatif
3.
Tranfer
vertikal
4.
Transfer lateral
BAB II
PEMBAHASAN
A. RAGAM TRANSFER
BELAJAR
1. Transfer
Positif
Transfer positi
menurut Gagne (baca: Gagne), yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan
kegiatan belajar selanjutnya. sedangkan menurut Barlow (1985) adalah learning
in one situation helpful in other situations,, yakni belajar dalam suatu
situasi yang dapatmembantu belajar dalam situasi-situasi lain.
2.
Transfer
negatif
Transfer
negatif menurut Gagne (baca: Gagne), yaitu transfer yang berefek buruk terhadap
kegiatan belajar selanjutnya sangat bertentangan dengan teori Daniel Lenox
Barlow yang menyatakan bahwa transfer negatif dapat dialami seorang siswa
apabila ia belajar dalam situasi tertentu yang memiliki pengaruh merusak
terhadap keterampilan/ pengetahuan yang dipelajari dalam situasi-situasi
lainnya. Pengertian ini diambil dari Educational Psychologi: The
Teaching-Learning Process oleh Daniel Lenox Barlow (1985) yang menyatakan bahwa
transfer negatif itu berarti, learning in one situation has a damaging effect
in other situation.
Dengan
demikian, di dalam teori Daniel Lenox Barlow pengaruh keterampilan atau
pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa sendiri tidak ada hubungannya dengan
kesulitan yang dihadapi oleh siswa tersebut ketika mempelajari pengetahuan atau
keterampilan lainnya. Menghadapi kemungkinan terjadinya transfer negatif itu,
yang penting bagi guru ialah menyadari dan sekaligus menghindarkan para
siswanya dari situasi-situasi belajar tertentu yang diduga keras akan
berpengaruh negatif terhadap kegiatan belajar para siswa tersebut pada masa
yang akan datang.
3.
Tranfer
Vertikal
Transfer
vertika (tegak lurus) dapat terjadi dalam diri seorang siswaapabila pelajaran
yang telah dipelajari dalam situasi tertentu membantu siswa tersebut dalam
menguasai pengetahuan atau keterampilan yang lebih tinggi atau lebih rumit.
Agar memperoleh
transfer vertikal, guru sangat dianjurkan untuk menjelaskan kepada para siswa
secara eksplisit mengenai faidah materi yang sedang diajarkannya bagi kegiatan
belajar materi lainnya yang lebih kompleks. Upaya ini penting sebab kalau siswa
tidak memiliki alasan yang benar mengapa ia harus mempelajari materi yang
sedang diajarkan gurunya itu (antara lain untuk transfer vertikal), mungkin ia
tidak akan mampu memanfaatkan materi tadi untuk mempelajari materi lainnya
yanglebih rumit. Padahal, learning in one situation allaws mastery of more
complex skill in other situation (Barlow, 1985) yang artinya bahwa belajar
dalam suatu situasi memungkinkan siswa menguasai keterampilan-keterampilan yang
lebih rumit dalam situasi yang lain.
4.
Transfer
Lateral
Transfer
lateral, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan
atau keterampilan yang sederajat. Transfer lateral (ke arah samping) dapat
terjadi dalam diri seorang siswa apabila ia mampu menggunakan materi yang telah
dipelajarinya untuk mempelajari materi yang sama kerumitannya dalam
situasi-situasi yang lain.
B. TERJADINYA
TRANSFER POSITIF DALAM BELAJAR
Diatas telah
diuraikan secukupnya mengenai arti tranfer positif dan signifikansinya bagi
kegiatan belajar siswa. Namun, bagaimanakah sebenarbya transfer positif itu
terjadi dalam diri siwa? Benarkah siswa akan mudah mempelajari materi “Y”
karena mengandung unsur yang identik dengan materi “X” yang telah dikuasai?
Transfer
positif, seperti yang telah diutarakan di muka, akan mudah terjadi pada diri
seorang siswa apabila situasi belajarnya dibuat sama atau mirip dengan situasi
sehari-hari yang akan ditempati siswa tersebut kelak dalam mengaplikasikan
pengetahuan dan keterampilan yang telah ia pelajari di sekolah. Transfer
positif dalam pengertian seperti inilah sebenarnya yang perlu diperhatikan
guru, mengingat tujuan pendidikan secara umum adalah terciptanya sumber daya
manusia yang berkualitas. Kualitas inilah yang didapatkan dari lingkungan
pendidikan untuk digunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu,
menurut teori yang dikembangkan Thorndike, seperti yang telah disinggung di
muka, transfer positif hanya akan terjadi apabila dua materi pelajaran memiliki
kesamaan unsur,. Teori kesamaan unsur ini telah memberi pengaruh besar terhadap
pola pengembangan kurikulum di Amerika Serikat beberapapuluh tahun yang lalu
(Cross, 1974).
Hal-hal seperti
kesamaan dan benda-benda yang digunakan untuk belajar sebagaimana tersebut
dalam teori Gagne, tidak dianggap berpengaruh. Untuk memperkuat asumsinya,
Thorndike memberi contoh, jika anda telah memecahkan masalah geometri (ilmu
ukur) yang mengandung sejumlah huruf tertentu sebagai petunjuk, maka ... you
would not be to transfer a geometry problem with a different set of letter
(Anderson, 1990), Anda tidak dapat mentransfer kemampuan memecahkan masalah
geometri itu untuk memecahkan masalah geometri lainnya yang menggunakan huruf
yang berbeda.
Dalam
perspektif psikologi kognitif masa kini, mekanisme transfer positif ala
Thorndike yang telah terlanjur diyakini banyak pakar itu ternyata hanya isapan
jempol belaka. Singly dan Anderson (1989) dan Anderson (1990) misalnya, sangat
meragukan teori yang menganggap transfer sebagai peristiwa spontan dan mekanis
(asalada kesamaan elemen) seperti yang diyakini orang selama ini.
Keraguan ini timbul karena ahli kognitif (kognitivitist) telah banyak
menemukan peristiwa transfer positif yang sangat mencolok antara kedua
keterampilan yang memiliki unsur yang sangat berbeda, namun memiliki struktur
logika yang sama.
Sesungguhnya
transfer itu merupakan peristiwa kognitif (ranah cipta/ akal) yang terjadi
karena belajar. Jadi, belajar dalam hal ini seyogianya dipandang sebagai
keadaan sebelum transfer atau prasyarat adanya transfer. Dengan demikian,
anggapan bahwa transfer itu spontan dan mekanis (seperti mesin atau robot)
sebenarnya berlawanan pada hakikat belajar itu sendiri, yaitu perbuatan siswa
yang sedikit atau banyak selalu melibatkan aktivitas ranah kognitif.
Bagaimana pula
hanya dengan transfer negatif yang sering dihawatirkan orang itu? Transfer
negatif, menurut Anderson (1990) dan Lawson (1991) tidak perlu dirisaukan
lantaran sangat jarang terjadi.
Sebagai
catatan, perlu diutarakan pula peristiwa belajar yang secara lahiriah tampak
seperti transfer tetapi sesungguhnya bukan transfer (baca, psikologi
pendidikan: 169).
C. KESULITAN
BELAJAR DAN ALTERNATIF PEMECAHANNYA
Setiap siswa
pada prinsipnya tentu berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik
(academic performence) yang memuaskan. Namun dalam kenyataan sehari-hari
tampak jelas bahwa siswa itu memiliki perbedaan dalam hal kemampuan
intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiasaan dan pendekatan
belajar yang tekadang sangat mencolok antara seorang siswa dengan siswa
lainnya.
Sementara itu,
penyelenggara pendidikan di sekolah-sekolah kita pada umumnya hanya ditunjukan
kepada para siswa yang berkemampuan rata-rata, sehingga siswa yang berkemampuan
lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan.
1. Faktor-faktor
Kesulitan Belajar
Fenomena
kesulitan belajar seorang siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya kinerja
akademik atau prestasi belajarnya. Namun, kesulitan belajar juga dapat
dibuktikan dengan munculnya kelainan perilaku (misbehavior) siswa sering
berteriak-teriak di dalam kelas, mengusik teman, berkelahi, sering tidak masuk
sekolah, dan sering minggat dari sekolah.
Secara garis
besar, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam.
1.
Faktor intern
siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang murni dari dalam diri manusia
sendiri.
2.
Faktor ekstern
siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar siswa.
Kedua faktor
ini meliputi aneka ragam hal dan keadaan yang antara lain tersebut di bawah
ini.
A.
Faktor Intern
Siswa
Faktor intern
siswa meliputi gangguan atau kekurangmampuan psikofisik siswa, yakni:
1)
yang bersifat
kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/inteligensi
siswa;
2)
yang bersifat
afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap;
3)
yang bersifat
psikomotor (ranah rasa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indra
penglihatan dan pendengar (mata dan telinga).
B.
Faktor Ekstern
Siswa
Faktor ekstern
siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak
mendukung aktivitas belajar siswa. Faktor ini dapat dibagi tiga macam.
1.
Lingkungan
keluarga, contohnya: ketidak harmonisan hibungan antara ayah dan ibu, dan
rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
2.
Lingkungan
perkampungan/masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan
teman sepermainan (peer group) yang nakal.
3.
Lingkungan
sekolah, contohnya: kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat
pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah.
Selain
faktor-faktor yang bersifat umum diatas, ada pula faktor-faktor lain yang juga
menimbulkan kesulitan belajar siswa. Di antara faktor-faktor yang dapat
dipandang sebagai faktor khusus ini ialah sindrom psikologis berupa learning disability
(ketidakmampuan belajar). Sindrom (syndrome) yang berarti satuan
gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis (Rober, 1988)
yang menimbulkan kesulitan belajar itu.
a.
Disleksia (dyslexia),
yakni ketidakmampuan belajar membaca.
b.
Disgrafia (dysgraphia),
yakni ketidakmampuan belajar menulis
c.
Diskalkulia (dyscalculia),
yakni ketidakmampuan belajar matematika.
Akan tetapi,
siswa yang mengalami sindrom-sindrom diatas secara umum sebenarnya memiliki
potensi IQ yang normal bahkan diantaranya ada yang memiliki kecerdasan di atas
rata-rata. Oleh karenanya, kesulitan belajar siswa yang menderita
sindrom-sindrom tadi mungkin hanya disebabkan oleh adanya minimal brain
dysfuntion, yaitu gangguan ringan pasa otak (Lask, 1985: Reber, 1988).
2. Diagnosis
Kesulitan Belajar
Sebelum
menetapkan alternatif pemecahan masalah kesulitan belajar siswa, guru sabgat
dianjurkan untuk terlebih dahulu melakukan identifikasi (upaya mengenali gejala
dengan cermat) terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan
belajar yang melanda siswa tersebut. Upaya seperti ini disebut diagnosis yang
bertujuan menetapkan jenis penyakit” yakni jenis kesulitan belajar siswa.
Banyak langkah
diagnosis yang dapat ditempuh guru, antara lain yang cukup terkenal adalah
prosedur Weener & Senf (1982) sebagaimana yang dikutip Wardani (1991)
sebagai berikut.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dapat kami simpulkan dari apa yang
telah dipaparkan pada keterangan sebelumnya, bahwa Transfer
belajar yang lazim disebut transfer belajar (transfer of learning) itu
mengandung arti pemindahan keterampilan hasil belajar dari satu situasi ke
situasi lainnya (Reber 1988). Kata pemindahan keterampilan tidak berkonotasi
hilangnya keterampilan melakukan sesuatu pada masa lalu karena diganti dengan
keterampilan baru pada masa sekarang.
Sedangkan untuk belajar kesulitannya
meliputi factor-faktor sebagaimana berikut.
1.
Faktor intern
siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang murni dari dalam diri manusia
sendiri.
2.
Faktor ekstern
siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar siswa.
B. KRITIK DAN SARAN
Kritik dan saran selalu kami
harapkan dari kalangan pembaca baik dari kalangan dosen pembimbing maupun dari
kalangan teman-teman mahasiswa untuk kesempurnaan penyusunan berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Purwanto, Ngalim. “Psikologi
Pendidikan”.2004. Rosda Karya . Bandung.
Dr. H. Mahmud, MSi. “Psikologi
Pendidikan”. 2010 Pustaka Setia.
Suryabrata, Sumadi. “Psikologi
Pendidikan”. 2010 Raja Grafinda Persada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar