BAB I
PENDAHULUAN
A. RINGKASAN MATERI
A. 1.
Tujuan Hidup
Mengetahui
tujuan hidup tidak akan terlepas dari siapa yang memberikan kehidupan sebagai
asal kehidupan itu sendiri, dan mengetahui asal dari kehidupan tidak bisa
terlepas dari pengenalan terhadap diri sendiri, sebagai mana dijelaskan oleh
Imam Ali a.s. dalam Nahjul Balaghah bahwa, “Awwaluddiin ma’rifatuhuu…” artinya
“Awal agama adalah mengenal Allah”. Yang telah memberikan kehidupan. Dalam
kesempatan yang lain Imam Ali a.s. menyatakan, “Siapa yang mengenal dirinya
pasti mengenal Tuhannya”. karan diri adalah ego yang sering membuat manusia itu
egois dengan dirinya, lupa akan siapa dirinya yang tercipta dari segumpal darah
menjadi segumpal daging serta tanah tak tak bernilai, jika manusia sadar mengapa
dia tercipta dari tanah yang rendah dan slalu diinjak injak pasti dia akan
menyadari bahwa hidupnya hanyalah seorang budak yang setiap saat tunduk serta
merendahkan diri dan siap untuk menerima injakan dan cobaan dari Penciptanya.
Dalam hal ini Self-managing sangat berperan untuk lebih mengetahui dengan jelas
apa yang ingin kita capai, selanjutnya adalah mengelola diri kita untuk
mencapai tujuan tersebut.
Manusia itu Ada
dari tiada menjadi ada dan akan tiada untuk ada, manusia lahir dalam keadaan
lemah kemudian tumbuh besar menjadi kuat, sakit dikit menjadi lemah sembuh
merasa kuat tua menjadi lemah, manusia itu dari lahir bodoh kemudian belajar
menjadi pintar semakin blajar semakin merasa bodoh dan ahirnya akan menjadi
pintar, tua renta akan semakin pelupa dst. Daur kehidupan haruslah difikirkan
dan direnungkan agar lebih mengetahui tujuan dari hidup ini. Daur kehidupan ini
akan terjawab setelah kita merenungi dan memahami ” Dari mana dan akan ke
mana?” yang menuntut kita untuk mencari jawabannya. Di dalam Alquran ditegaskan
bahwa, “… Sesungguhnya kita semua kepunyaan Allah dan akan kembali kepada-Nya”
menunjukan bahwa tujuan kita hidup semata mata untuk kembali kepadaNya Sang
Maha Pencipta, kata kasarnya, tujuan hidup kita adalah Mati, Namun kita tidak
bisa melupakan atau mengenyampingkan Apa Tugas yang dibebani oleh Allah S.W.T
dalam mengisi hidup di dunia untuk dipertanggungjawabkan setelah mencapai
tujuan hidup nanti.
Manusia tidak
tahu kapan akan mencapai tujuan hidupnya yaitu mati, karena itu siapkanlah diri
untuk menghadapi kematian dengan sebaik-baiknya. Dengan kata lain, “Belajarlah
mati sebelum mati” (Mutuu qabla an tamuutuu), yaitu belajar dan berusaha agar
kita selalu siap, agar sewaktu-waktu bila telah sampai pada tujuan, kembalilah
dengan selamat dan bahagia. yaitu matinya orang orang yang bertakwa, yang
hatinya selalu berzikir dan ingat kepada Allah dalam keadaan apa pun, dalam Al
qur’an dijelaskan ” Wajah-wajah mereka (orang-orang beriman) pada hari itu
berseri-seri. Mereka melihat kepada Tuhannya.
Dengan
menentukan tujuan hidup, maka kita dapat menentukan sasaran/target hidup dan
bagaimana kita menggunakan waktu kita.
A.2 Tujuan
Pendidikan
Filsafat pendidikan merupakan
aplikasi filsafat dalam pendidikan (Kneller, 1971). Pendidikan membutuhkan filsafat
karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan
yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam,
serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta
pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan.
Seorang guru, baik sebagai pribadi
maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan.
Seorang guru perlu memahami dan tidak boleh buta terhadap filsafat pendidikan,
karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup
dan kehidupan individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan .
Tujuan pendidikan perlu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan hidup. Guru
sebagai pribadi mempunyai tujuan hidupnya dan guru sebagai warga masyarakat
mempunyai tujuan hidup bersama.
Filsafat pendidikan harus mampu
memberikan pedoman kepada para pendidik (guru). Hal tersebut akan mewarnai
sikap perilakunya dalam mengelola proses belajar mengajar (PBM). Selain itu pemahaman
filsafat pendidikan akan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba,
mencoba-coba tanpa rencana dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan.
Kalau kita berbicara
tentang pendidikan, tentunya tidak akan terlepas dari masalah apa sih
sebenarnya tujuan pendidikan itu. Pendidikan dapat dikatakan berhasil jika
sudah mempunyai tujuan-tujuan yang jelas dan ditempuh dengan tindakan-tindakan
yang jelas pula. Di Indonesia sendiri, dari masalah pendidikan ini akhirnya
muncul polemik-polemik yang harus segera dipecahkan. Kalau boleh bicara jujur,
sebenarnya pendidikan di Indonesia ini masih dapat dikatakan belum berhasil.
Terbukti dengan semakin tingginya angka pengangguran di setiap tahunnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. TUJUAN
HIDUP
Allah menciptakan
alam semesta (termasuk manusia) tidaklah dengan palsu dan sia-sia (QS. As-Shod
ayat 27). Segala ciptaan-Nya mengandung maksud dan manfaat. Oleh karena itu,
sebagai makhluk yang paling mulia, sekaligus sebagai khalifah di muka bumi,
manusia harus meyadari terhadap tujuan hidupnya. Dalam konteks ini, al-Qur’an
menjelaskan, bahwa manusia memiliki bebrapa tujuan hidup, diantaranya adalah
sebagai berikut;
- Menyembah Kepada Allah
(Beriman)
Keberadaan manusia di
muka bumi ini bukanlah ada dengan sendirinya. Manusia diciptakan oleh Allah,
dengan dibekali potensi dan infrastruktur yang sangat unik. Keunikan dan
kesempurnaan bentuk manusia ini bukan saja dilihat dari bentuknya, akan tetapi
juga dari karakter dan sifat yang dimiliki oleh manusia. Sebagai ciptaan, manusia
dituntut memiliki kesadaran terhadap posisi dan kedudukan dirinya di hadapan
Tuhan. Dalam konteks ini, posisi manusia dihadapan Tuhan adalah bagaikan
“hamba” dengan “majikan” atau “abdi” dengan “raja”, yang harus menunjukan sifat
pengabdiaan dan kepatuhan.
Sebagai agama yang
haq, Islam menegaskan bahwa posisi manusia di dunia ini adalah sebagai
‘abdullah (hamba Allah). Posisi ini menunjukan bahwa salah satu tujuan hidup
manusia di dunia adalah untuk mengabdi atau beribadah kepada Allah. Yang
dimaksud dengan mengabdi kepada Allah adalah taat dan patuh terhadap seluruh
perintah Allah, dengan cara menjalankan seluruh perintah-perintah-Nya dan
menjauhi seluruh larangan-Nya dalam segala aspek kehidupan. Dalam hal ini,
Allah Swt. menjelaskan dalam firman-Nya, bahwa tujuan hidup manusia adalah
semata-mata untuk mengabdi (beribadah) kepada-Nya (QS. Adz-Dzariyat ayat 56 dan
QS. Al-Bayyinah ayat 5).[1]
Makan beribadah sebagaimana
dikemukakan di atas (mentaati segala perintah dan menjauhi larangan Allah)
merupakan makna ibdah secara umum. Dalam tataran praktis, ibadah secara umum
dapat diimplementasikan dalam setiap aktivitas yang diniatkan untuk menggapai
keridlaan-Nya, seperti bekerja secara professional, mendidik anak, berdakwah
dan lain sebagainya. Dengan demikian, misi hidup manusia untuk beribadah kepada
Allah dapat diwujudkan dalam segala aktivitas yang bertujuan mencari ridla
Allah (mardlotillah).
Sedangkan secara khusus, ibadah
dapat dipahami sebagai ketaatan terhadap hukum syara’ yang mengatur hubungan
vertical-transendental (manusia dengan Allah). Hukum syara’ ini selalu
berkaitan dengan amal manusia yang diorientasikan untuk menjalankan kewajiban
‘ubudiyah manusia, seperti menunaikan ibadah shalat, menjalankan ibadah puasa,
memberikan zakat, pergi haji dan lain sebagainya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat
diambil kesimpulan bahwa tujuan hidup manusia yang pertama adalah menyembah
kepada Allah. Dalam pengertian yang lebih sederhana, tujuan ini dapat disebut
dengan “beriman”. Manusia memiliki keharusan menjadi individu yang beriman
kepada Allah (tauhid). Beriman merupakan kebalikan dari syirik, sehingga dalam
kehidupannya manusa sama sekali tidak dibenarkan menyekutukan Allah dengan
segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini (Syirik).
- Memanfaatkan Alam Semesta
(Beramal)
Manusia adalah puncak
ciptaan dan makhluk Allah yang tertinggi (QS. at-Tien ayat 4). Sebagai makhluk
tertinggi, disamping menjadi hamba Allah, manusia juga dijadikan sebagai
khalifah atau wakil Tuhan dimuka bumi (QS. al-Isra’ ayat 70). Di samping itu,
Allah juga menegaskan bahwa manusia ditumbuhkan (diciptakan) dari bumi dan
selanjutnya diserahi untuk memakmurkannya (QS. Hud ayat 16 dan QS. al-An’am
ayat 165). Dengan demikian, seluruh urusan kehidupan manusia dan eksistensi
alam semesta di dunia ini telah diserahkan oleh Allah kepada manusia.[2]
Perintah memakmurkan
alam, berarti perintah untuk menjadikan alam semesta sebagai media mewujudkan
kemaslahatan hidup manusia di muka bumi. Al-Qur’an menekankan bahwa Allah tidak
pernah tak perduli dengan ciptaan-Nya. Ia telah menciptakan bumi sebanyak Ia
menciptakan langit, yang kesemuanya dimaksudkan untuk menjamin kesejahteraan
lahir dan batin manusia. Ia telah menciptakan segala sesuatu untuk kepentingan
manusia. Bintang diciptakan untuk membantu manusia dalam pelayaran, bulan dan
matahari diciptakan sebagai dasar penanggalan. Demikian juga dengan realitas
kealaman yang lainnya, diciptakan adalah dengan membekal maksud untuk
kemaslahatan manusia.
Untuk menjadikan
realitas kealaman dapat dimanfaatkan oleh manusia, Allah telah membekalinya
dengan potensi akal. Di samping itu, Allah juga telah mengajarkan kepada
manusia terhadap nama-nama benda yang ada di alam semesta. Semua ini diberikan
oleh Allah adalah sebagai bekal untuk menjadikan alam semesta sebagai media membentuk
kehidupan yang sejahtera lahir dan batin. Dalam hal ini Allah menegaskan bahwa
manusia harus mengembara dimuka bumi, dan menjadikan seluruh fenomena kelaman
sebagai pelajaran untuk meraih kebahagian hidupnya (QS. Al-Ankabut ayat 20 dan
QS. Al-Qashash ayat 20).
Berdasarkan uraian di
atas, maka sangat jelas bahwa dalam kehidupannya manusia memiliki tujuan untuk
memakmurkan alam semesta. Implementasi tujuan ini dapat diwujudkan dalam bentuk
mengambil i’tibar (pelajaran), menunjukan sikap sportif dan inovatif serta
selalu berbuat yang bermanfaat untuk diri dan lingkungannya. Dalam konteks
hubungannya dengan alam semesta, dalam kehidupannya manusia memiliki tujuan
untuk melakukan kerja perekayasaan agar segala yang ada di alam semesta ini
dapat bermanfaat bagi kehidupannya. Dengan kata lain, tujuan hidup manusia yang
semacam ini dapat dikatakan dengan tujuan untuk “beramal”.
- Membentuk Sejarah Dan
Peradaban (Berilmu)
Sebagaimana telah
dikemukakan di atas, Allah menciptakan alam semesta ini dengan pasti dan tidak
ada kepalsuan di dalamnya (QS. Shod ayat 27). Oleh Karena itu, alam memiliki
eksistensi yang riil dan obyektif, serta berjalan mengikuti hukum-hukum yang
tetap (sunnatullah). Di samping itu, sebagai ciptaan dari Dzat yang merupakan
sebaik-baiknya pencipta (QS. al-Mukminun ayat 14), alam semesta mengandung
nilai kebaikan dan nilai keteraturan yang sangat harmonis. Nilai ini diciptakan
oleh Allah untuk kepentingan manusia, khususnya bagi keperluan perkembangan
sejarah dan peradabannya (QS. Luqman ayat 20). Oleh karena itu, salah satu
tujuan hidup manusia menurut al-Qur’an di muka bumi ini adalah melakukan
penyelidikan terhadap alam, agar dapat dimengerti hukum-hukum Tuhan yang
berlaku di dalamnya, dan selanjutnya manusia memanfaatkan alam sesuai dengan
hukum-hukumnya sendiri, demi kemajuan sejarah dan peradabannya.[3]
Proses pemanfaatan
alam semesta dalam kehidupan manusia diwujudkan dengan perbuatan dan aktivitas
riil yang memiliki nilai guna. Perbuatan atau aktivitas riil yang dijalankan
manusia dimuka bumi ini selanjutnya membentuk rentetan peristiwa, yang disebut
dengan “sejarah”. Dunia adalah wadah bagi sejarah, dimana manusia menjadi
pemilik atau rajanya. Hidup tanpa sejarah adalah kehidupan yang dialami oleh
manusia setelah kematian. Karena dalam kehidupan pasca kematian manusia hanya
diharuskan mempertanggungjawabkan terhadap sejarah yang telah dibuat atau
dibentuk selama dalam kehidupannya di dunia. Dengan demikian, dalam
kehidupannya di dunia, manusia juga memiliki tujuan untuk membentuk sejarah dan
peradabannya yang baik, dan selanjutnya harus dipertanggungjawabkan di hadapatn
Tuhannya.
Urain dapat membentuk
sejarahnya, manusia harus selalu iqra’ atau membaca alam semesta. Dengan kata
lain, manusia harus menjadikan alam semesta sebagai media mengembangkan ilmu
dan pengetahuannya. Oleh karena itu, tujuan manusia membentuk sejarah dan
peradaban ini dapat dikatakan sebagai tujuan menjadi manusia yang “berilmu”.
Berdasarkan uraian
tentang tujuan-tujuan hidup manusia di atas, dapat ditarik benang merah, bahwa
menurut al-Qur’an manusia setidaknya memiliki 3 tujuan dalam hidupnya. Ketiga
tujuan tersebut adalah; pertama, menyembah kepada Allah Swt. (beriman). Kedua,
memakmurkan alam semesta untuk kemaslahatan (beramal) dan Ketiga, membentuk
sejarah dan peradabannya yang bermartabat (berilmu). Dengan kata lain, menurut
al-Qur’an, tugas atau tujuan pokok hidup manusia dimuka bumi ini sebenarnya
sangatlah sederhana, yakni menjadi manusia yang “beriman”, “beramal” dan
“berilmu”. Keterpaduan ketiga tujuan hidup manusia inilah yang menjadikan
manusia memiliki eksistensi dan kedudukan yang berbeda dari makhluk Allah
lainnya.
Allah
SWT berfirman yg artinya “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yg sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yg
serendah-rendahnya kecuali orang-orang yg beriman dan mengerjakan amal shaleh;
maka bagi mereka pahala yg tiada putus-putusnya.” . [4]
B. TUJUAN
PENDIDIKAN
B.1. Hakikat Tujuan Pendidikan
Berdasarkan Fitrah Manusia
Fitrah
artinya bersih tanpa dosa dan noda,baik dalam akal maupun nafsunya.manusia yang
masih fitrah adalah manusia yang masih bersih dari dosa, menurut imaduddin
abdurrahiem, manusia yang fitrah berarti manusia yang tend to be good.artinya manusia cenderung pada kebertuhanan dan
pada kebaikan.
Dengan fitrahnya, manusia dapat mengembangkan kekuatan
jiwanya untuk mengetahui dan mengenal lebih dekat tuhan yang telah
menciptakannya. Kekuatan manusia di bantu dengan kekuatan akal yang memiliki
kemampuan untuk memikirkan sesuatu hal yang baik dan yang buruk bagi diri
manusia dan lingkungannya serta memilih dan memilah segala sesuatu yang
menurutnya terbaik.
Dengan demikian ,secara filosofis konsep fitrah manusia
adalah sebagai berikut:
1. Manusia
telah di tetapkan oleh Allah lahir dalam keadaan fitrah ,terbebas dari segala
bentuk dosa.
2. Kebutuhan
fitrah manusia tidak akan bisa di rubah oleh siapapun
3. Perubahan
yang di paksakan terhadap fitrah manusia tidak akan langgeng
4. Ilmu
pengetahuan merupakan salah satu kebutuhan fitrah manusia karna dengan ilmu
pengetahuan ,secara sadar atau tidak manusia memiliki kemampuan yang lebih baik
dalam mempertahankan kehidupannya.
5. Sesuai
dengan kesuciannya dalam struktur manusia Allah telah memberi seperangkat
kemampuan dasar yang memiliki kemampuan berkembang.
Dengan
demikian ,konsep fitrah manusia dalam filsafat pendidikan melipui 5 hal
mendasar
Yaitu:
1. Manusia
pada dasarnya merupakan mahluk Allah yang bersih dari dosa dan kotran nafsu
duniawi
2. Allah
memberikan roh fitrah kepada manusia dalam bentuk keinginan dan kecenderungan
memcari kebenaran
3. Fitrah,cenderung
pada kebenaran dan pasrah pada kehendak Allah
4. Kehendak
fitrah manusia yang mendasar atas memcari ilmunya pengetahuan
5. Pengaruh
lingkungan keluarga,lingkungan sekolah,dan lingkungan masyarakat dapat
mengotori nilai-nilai ftrah manusia.Dalam uraian lain arifin menegaskan bahwa
untuk mengembangkan kemampuan dasar di atas pendidikan merupakan sarana yang
menentukan titik optimal kemampuan-kemampuan tersebut dapat di capai.
Dengan konsepsi fitrah
di atas pengembangan pendidikan yang berbasis pada fitrah adalah pendidikan
yang mengembangkan bahan ajar sebagai berikut:
1)
Pengembangan
pendidikan ketuhanan, yaitu pendidikan tentang keimanan kepada keEsaan Allah
SWT
2)
Pengembangan
pendidikan sosial
3)
Pengembangan
pendidikan kealaman
4)
Pengembangan
pendidikan ekonomi
5)
Pengembangan
pendidikan tingkah laku
6)
Pengembangan
pendidikan kebudayaan
Dengan demikian
anak-anak dalam keliarga tidak termasuk peserta didik karna dalam pendidikan di
keluarga tidak ada proses pembelajaran yang mengikuti jalir,jenjang, dan jenis
pendidikan tertentu.pendidikan dalm keluarga yang di lakukan oleh kedua orang
tua maupun oleh anggota keluarga lainnya hanya merupakan pelaksanaan tanggung
jawab dan kewajiban pendidikan dalam keluarga.
Bimbingan
orang tua meliputi:
1. Memberi
teladan yang baik
2. Membiasakan
anak bersikap baik
3. Menyajikan
cerita-cerita yang baik
4. Menerangkan
dalam segala hal yang baik
5. Membina
daya kreatif anak
6. Mengontrol,membimbing
dan mengawasi perilaku anak dengan baik
7. Memberikan
sanksi yang bernilai pelajaran dengan baik
Dalam pengembangan pendidikan yang di kaitkan dengan
anak didik,perlu di perhatikan aspek-aspek yang penting di kembangkan dari
peserta didik,yaitu:
1) Aspek
pedagigis yaitu seluruh manusia memerlukan pendidikan
2) Aspek
sosiologis yaitu manfaat pendidikan bagi manusia dalam pergaulannya dengan
manusia
3) Aspek
filosofis yaitu pengembangn cara berfikir anak didik yang di perkaya oleh
kematangan dan teknik berfikir dan radikal ,logis,kritis, dan sistematis,juga
kontemplatif
4) Aspek
kultural pengebangan pendidikan yang di terapkan kepada peserta didik guna
membangnkitkan kreatifitasnya daya cipta dan karyanya dalam ilmu pengetahuan
yang bermanfaat bagi kehidupan di masyarakat
5) Aspek
relijiusitas yaitu pengembangna pendidikan yang menguatkan keberagaman,keyakinan atau keimanan peserta didik.
6) Aspek
pertumbuhan anak yaitu pengembangan pendidikan yang berkaitan dengan
pertumbuhan anak yang berdasarkan pada biologis anak,psikologis dan
didaktisnya.[5]
Setiap
jenjang pendidikan yang di lalui oleh peserta didik berkaitan dengan
pengembangan potensi dan pendidikan keterampilan peserta didik. Oleh karna itu
,semua lembaga pendidikan harus berupaya mengembangkan kurikulumnya untuk
membekali anak didik dengan ilmu
pengetahuan teoretis dan praktis.dengan demikian, seluruh pendidikan bertujuan
untuk memberikan bekal ilmu pengetahuan yang sifatnya teori dan keterampilan
menerapkan teori dalam kehidupan,sehingga peserta didik lulus dari
pendidikannya ia memiliki kecakapan yang siap di pakai dalam jenis pekerjaan
yang di pilihnya.
Proses pendidikan adalah proses
perkembangan yang bertujuan. Tujuan proses perkembangan itu secara almiah
adalah kedewasaan, sebab potensi manusia yang paling alamiah adalah bertumbuh
menuju tingkat kedewanaan, kematangan. Potensi ini akan dapat terwujud apabila
prakondisi almiah dan sosial manusia bersangkutan memungkinkan untuk
perkembangan tersebut, misalnya iklim, makanan, kesehatan, dan keamanan,
relatif sesuai dengan kebutuhan manusia. Kedewasaan yang yang bagaimanakah yang
diinginkan dicapai oleh manusia, apakah kedewasaan biologis-jasmaniah, atau
rohaniah (pikir, rasa, dan karsa), atau moral (tanggung jawab dan kesadaran
normatif), atau kesemuanya. Persoalan ini adalah persoalan yang amat mendasar,
yang berkaitan langsung dengan sisitem nilai dan standar normatis sebuah
masyarakat (Noor, 196). Cara kerja dan hasil filsafat dapat dipergunakan untuk
memecahkan masalah hidup dan kehidupan manusia, dimana pendidikan merupakan
salah satu dari aspek kehidupan tersebut, karena hanya manusialah yang dapat
melaksanakan dan menerima pendidikan.
Oleh karena itu pendidikan
memerlukan filsafat. Karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut
pelaksanaan pendidikan, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan
akan uncul masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, dan lebih kompleks,
yang tidak terbatasi oleh pengalmaan maupun fakta faktual, dan tidak
memeungkinkan untuk dijangkau oleh ilmu. Seorang guru, baik sebagai pribadi
maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat dan filsafat
pendidikan. Seorang guru perlu memahami dan tidak buta terhadap filsafat
pendidikan, karena tujuan pendidikan selalu berbungan langsung dengan tujuan
kehidupan individu dan masyarakat penyelenggara pendidikan. Hubungan antar
filsafat dengan pendidikan adalah, filsafat menelaah suatu realitas dengan luas
dan menyeluruh, sesuai dengan karateristik filsafay yang radikal, sistematis,
dan menyeluruh. Konsep tentang dunia dan tujuan hidup manusia yang merupakan
hasil dari studi filsafat, akan menjadi landasan dalam menyusun tujuan
pendidikan. Nantinya bangun sistem pendidikan dan praktek pendidikan akan
dilaksanaka berorientasi kepada tujuan pendidikan ini. Brubacher (1950)
(Sadulloh, 2003) mengemukakan hubungan antar filsafat dengan filsafat pendidikan:
bahwa filsafat tidak hanya melahirkan ilmu atau pengetahuan baru, melainkan
juga melahirkan filsafat pendidikan. Bahkan Jhon Dewey berpendapat bahwa
filsafat adalah teori umum pendidikan. Filsafat pendidikan haruslah minimal
dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam pendidikan.
Sadulloh merumuskan empat pertanyaan
mdasar pendidikan sebagai berikut. 1. Apakah pendidikan itu? 2. Mengapa manusia
harus melaksanakan pendidikan? 3. Apakah yang seharusnya dicapai dalam proses
pendidikan? 4. Dengan cara bagaimana cita-cita pendidikan yang tersurat maupun
yang etrsirat dapat dicapai? Jawaban atas keempat pertanyaan tersebut akan
sangat tergantung dan akan ditentukan oleh pandangan hidup dan tujuan hidup
manusia, baik secara individu maupun secara bersama-sama (masyarakat/ bangsa).
Filsafat pendidikan tidak hanya terbatas pada fakta faktual, tetapi filsafat
pendidikan harus sampai pada penyelasian tuntas tentang baik dan buruk, tentang
persyaratan hidup sempurna, tentang bentuk kehidupan individual maupun
kehidupan sosial yang baik dan sempurna. Ini berarti pendidikan adalah
pendidikan adalah pelaksanaan dari ide-ide filsafat. Dengan kata lain filsafat
memberikan asas kepastian bagi nilai peranan pendidikan, lembaga pendidikan dan
aktivitas penyelengaraan pendidikan. Jadi peranan filsafat pendidikan merupakan
sumber pendorong adanya pendidikan. Dalam bentuk yang lebih terperinci lagi,
filsafat pendidikan menjadi jiwa dan pedoman asasi pendidikan. Pendidikan
merupakan usaha untuk merealisasikan ide-ide ideal dari filsafat menjadi
kenyataan, tindakan, tingkah laku, dan pembentukan kepribadian.[6]
Tujuan pendidikan seharusnya adalah
mengenal Allah SWT. Semakin kenal seseorang terhadap Allah SWT, maka orang
tersebut akan semakin
menyadari ‘kehadiran’-Nya dalam setiap keadaan, sehingga terlindungi
dari sifat curang, mulai dari yang kecil sampai dengan yang besar.
Kedekatan dengan khaliq juga berdampak kepada semakin hebatnya daya
manfaat seseorang kepada lingkungannya, karena ilmu-Nya akan mengalir
deras kepada yang bersangkutan. Sekarang ini pendidikan terlalu diarahkan ke tujuan-tujuan yang sifatnya duniawi, jauh dari tujuan untuk mengenal Allah SWT.
menyadari ‘kehadiran’-Nya dalam setiap keadaan, sehingga terlindungi
dari sifat curang, mulai dari yang kecil sampai dengan yang besar.
Kedekatan dengan khaliq juga berdampak kepada semakin hebatnya daya
manfaat seseorang kepada lingkungannya, karena ilmu-Nya akan mengalir
deras kepada yang bersangkutan. Sekarang ini pendidikan terlalu diarahkan ke tujuan-tujuan yang sifatnya duniawi, jauh dari tujuan untuk mengenal Allah SWT.
Manifestasi tujuan duniawi dapat
kita lihat pada tujuan pendek
pendidikan kita yang berorientasi pada nilai akademik semata (nilai
akademik pun hanya untuk mengukur kekuatan menghafal), sedangkan
tujuan akhirnya adalah uang dan status sosial.
pendidikan kita yang berorientasi pada nilai akademik semata (nilai
akademik pun hanya untuk mengukur kekuatan menghafal), sedangkan
tujuan akhirnya adalah uang dan status sosial.
Kesalahan tujuan jangka pendek
pendidikan berakibat pada pendidikan
yang berbasis kepada kurikulum semata dan semakin menafikkan peran
guru. Ketika hal ini terjadi, guru hanya berperan sebatas sebagai
pengajar (yang hanya mengajarkan materi-materi pelajaran), tidak
sebagai pendidik (selain memberikan materi pelajaran, tapi juga
nilai-nilai lain, seperti etika, akhlak, ruh ilmu yang diajarkan dll).
Ini disebabkan kebijakan pemerintah yang lebih berminat mengalokasikan
dana untuk pembuatan buku-buku kurikulum yang tebal-tebal (sehingga
dapat dikorup), ketimbang memperbaiki kesejahteraan para guru.
yang berbasis kepada kurikulum semata dan semakin menafikkan peran
guru. Ketika hal ini terjadi, guru hanya berperan sebatas sebagai
pengajar (yang hanya mengajarkan materi-materi pelajaran), tidak
sebagai pendidik (selain memberikan materi pelajaran, tapi juga
nilai-nilai lain, seperti etika, akhlak, ruh ilmu yang diajarkan dll).
Ini disebabkan kebijakan pemerintah yang lebih berminat mengalokasikan
dana untuk pembuatan buku-buku kurikulum yang tebal-tebal (sehingga
dapat dikorup), ketimbang memperbaiki kesejahteraan para guru.
Dampak ke siswa adalah mereka
berorientasi sebatas pada materi
pelajaran akademik (yang berbasis kepada memorizing itu), sehingga
tidak heran kita temui para siswa kita tidak sungkan-sungkan untuk
mencontek ketika ujian atau doyan tawuran atau hidup secara hedonistik
atau menjadi para pembangkang. Hal tersebut disebabkan tidak
bersemainya nilai-nilai etika dan akhlaq pada lubuk hati mereka.
Cahaya Tuhan tidak menyinari hati mereka, disebabkan para guru tidak
dapat menjadi agen ilmu-Nya dengan baik; ilmu sebatas tertulis secara
kering di kertas, tidak pernah menyinari para siswa (bahkan mungkin
para gurunya sendiri).
pelajaran akademik (yang berbasis kepada memorizing itu), sehingga
tidak heran kita temui para siswa kita tidak sungkan-sungkan untuk
mencontek ketika ujian atau doyan tawuran atau hidup secara hedonistik
atau menjadi para pembangkang. Hal tersebut disebabkan tidak
bersemainya nilai-nilai etika dan akhlaq pada lubuk hati mereka.
Cahaya Tuhan tidak menyinari hati mereka, disebabkan para guru tidak
dapat menjadi agen ilmu-Nya dengan baik; ilmu sebatas tertulis secara
kering di kertas, tidak pernah menyinari para siswa (bahkan mungkin
para gurunya sendiri).
Kesalahan tujuan jangka panjang
pendidikan berakibat pada sifat tamak
para siswa. Bagi yang mengejar uang, maka mereka terkondisi sebagai
koruptor-koruptor ulung, jika bekerja di pemerintahan, dan menjadi
para kapitalis yang tidak berhati nurani, jika berada di swasta. Bagi
yang mengejar status sosial, misalnya dalam dunia sains dan teknologi,
mereka tidak sungkan-sungkan melakukan kecurangan-kecurangan demi
prestasi yang berakibat pada status sosial. Hal-hal tersebut sebagai
akumulasi akibat pendidikan yang tidak berupaya menghadirkan Allah
SWT. Output pendidikan sekuler menghasilkan para manusia yang tidak
mengenal etika, akhlaq dan cahaya ilmu, sehingga mereka berbuat
kerusakan, baik skala kecil atau pun besar.
para siswa. Bagi yang mengejar uang, maka mereka terkondisi sebagai
koruptor-koruptor ulung, jika bekerja di pemerintahan, dan menjadi
para kapitalis yang tidak berhati nurani, jika berada di swasta. Bagi
yang mengejar status sosial, misalnya dalam dunia sains dan teknologi,
mereka tidak sungkan-sungkan melakukan kecurangan-kecurangan demi
prestasi yang berakibat pada status sosial. Hal-hal tersebut sebagai
akumulasi akibat pendidikan yang tidak berupaya menghadirkan Allah
SWT. Output pendidikan sekuler menghasilkan para manusia yang tidak
mengenal etika, akhlaq dan cahaya ilmu, sehingga mereka berbuat
kerusakan, baik skala kecil atau pun besar.
Seseorang disekolahkan
oleh orang tuanya tentu agar menjadi seseorang yang cerdas dan berperilaku
baik. Itu adalah tujuan diadakannya pendidikan di negara indonesia, yaitu
Taqwa, Cerdas dan Terampil. Dengan tujuan ini sudah seharusnyanya seseorang
yang telah memasuki dunia pendidikan harus berbeda dengan orang yang belum
pernah mengenyam pendidikan. Perbedaan itu tentu harus terlihat dari ketaqwaan,
kecerdasan dan ketrampilannya. Manakala tidak ada perbedaan apalah artinya pendidikan
baginya.
Semakin tinggi
pendidikan seseorang, dari sisi ketaqwaan maka dia harus lebih bertaqwa.
Mengapa? Karena semakin tinggi pendidikan berarti dia semakin tau tentang hal
yang baik dan yang buruk, mana yang jahat dan tidak jahat. Kalau dia tidak
semakin taqwa, dia pasti akan menjadi seseorang yang sombong, angkuh karena
telah mampu mengenyam pendidikan yang tinggi. Dari sisi perasaan seseorang yang
berpendidikan tinggi pasti lebih egois dan kurang menghargai perasaan orang
lain jika tujuan taqwa ini tidak ada padanya. Karena dengan peningkatan
ketaqwaan ini seseorang akan lebih santun, berakhlak mulia dan dapat menghargai
perasaan sesama, tentunya dengan pengetahuan yang dia miliki.
Kemudian seseorang yang
berpendidikan pasti menjadi lebih cerdas. Ini menjadi tujuan utama orang tua
memasukkan anaknya untuk masuk dunia pendidikan. Terkadang orang tua lupa bahwa
ketaqwaan adalah modal utama untuk hidup (sisi rohani). Orang yang cerdas tidak
bertaqwa dia akan menjadikan kecerdasannya untuk mengbohongi orang lain, dan
hal negatif lainnya.[7]
BAB III
KESIMPULAN
Mengetahui
tujuan hidup tidak akan terlepas dari siapa yang memberikan kehidupan sebagai
asal kehidupan itu sendiri, dan mengetahui asal dari kehidupan tidak bisa
terlepas dari pengenalan terhadap diri sendiri, sebagai mana dijelaskan oleh
Imam Ali a.s. dalam Nahjul Balaghah bahwa, “Awwaluddiin ma’rifatuhuu…” artinya
“Awal agama adalah mengenal Allah”. Yang telah memberikan kehidupan. Dalam
kesempatan yang lain Imam Ali a.s. menyatakan, “Siapa yang mengenal dirinya
pasti mengenal Tuhannya”. karan diri adalah ego yang sering membuat manusia itu
egois dengan dirinya, lupa akan siapa dirinya yang tercipta dari segumpal darah
menjadi segumpal daging serta tanah tak tak bernilai, jika manusia sadar mengapa
dia tercipta dari tanah yang rendah dan slalu diinjak injak pasti dia akan
menyadari bahwa hidupnya hanyalah seorang budak yang setiap saat tunduk serta
merendahkan diri dan siap untuk menerima injakan dan cobaan dari Penciptanya.
Proses pendidikan adalah proses
perkembangan yang bertujuan. Tujuan proses perkembangan itu secara almiah
adalah kedewasaan, sebab potensi manusia yang paling alamiah adalah bertumbuh
menuju tingkat kedewanaan, kematangan. Potensi ini akan dapat terwujud apabila
prakondisi almiah dan sosial manusia bersangkutan memungkinkan untuk
perkembangan tersebut, misalnya iklim, makanan, kesehatan, dan keamanan,
relatif sesuai dengan kebutuhan manusia. Kedewasaan yang yang bagaimanakah yang
diinginkan dicapai oleh manusia, apakah kedewasaan biologis-jasmaniah, atau
rohaniah (pikir, rasa, dan karsa), atau moral (tanggung jawab dan kesadaran
normatif), atau kesemuanya. Persoalan ini adalah persoalan yang amat mendasar,
yang berkaitan langsung dengan sisitem nilai dan standar normatis sebuah
masyarakat (Noor, 196). Cara kerja dan hasil filsafat dapat dipergunakan untuk
memecahkan masalah hidup dan kehidupan manusia, dimana pendidikan merupakan
salah satu dari aspek kehidupan tersebut, karena hanya manusialah yang dapat
melaksanakan dan menerima pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Linda. 2005. Perlukah Mencari Tujuan
Hidup. Http/google/tujuanhidup
Purwanto, Edi. 2008. Apakah Tujuan
Pendidikan. http/google/tujuanpendidikan
Sadulloh, Uyoh. 2003. Pengantar
Filsafat Pendidikan. CV Alfabeta, Bandung.
Luluvikar. 2004. Apa Tujuan Hidupmu. http/google/tujuanhidup
Tafsir, Ahmad, 2011, Filsafat Pendidikan, CV Pusataka
Setia, Bandung
[4]Diakses dari http://kumpulan-makalah-baru.blogspot.com/2012/02/tujuan-dan-fungsi-hidup.html
tgl 4 April 2014
[5]
Prof. Dr. H. A. Tafsir, Filsafat Pendidikan, (Bandung; CV Pustaka Setia,
2011), Cetakan ke 10, hal 173
[6]
Uyoh Sadulloh. Penagntar Filsafat Pendidikan, (Bandung; Alfabeta, 2012),
cetakan kedelapan, hal 74
[7] Diakses dari http://van88.wordpress.com/filsafat-pendidikan-2/
4 April 2014