Selasa, 24 Februari 2015

FILSAFAT PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. RINGKASAN MATERI
A. 1. Tujuan Hidup
Mengetahui tujuan hidup tidak akan terlepas dari siapa yang memberikan kehidupan sebagai asal kehidupan itu sendiri, dan mengetahui asal dari kehidupan tidak bisa terlepas dari pengenalan terhadap diri sendiri, sebagai mana dijelaskan oleh Imam Ali a.s. dalam Nahjul Balaghah bahwa, “Awwaluddiin ma’rifatuhuu…” artinya “Awal agama adalah mengenal Allah”. Yang telah memberikan kehidupan. Dalam kesempatan yang lain Imam Ali a.s. menyatakan, “Siapa yang mengenal dirinya pasti mengenal Tuhannya”. karan diri adalah ego yang sering membuat manusia itu egois dengan dirinya, lupa akan siapa dirinya yang tercipta dari segumpal darah menjadi segumpal daging serta tanah tak tak bernilai, jika manusia sadar mengapa dia tercipta dari tanah yang rendah dan slalu diinjak injak pasti dia akan menyadari bahwa hidupnya hanyalah seorang budak yang setiap saat tunduk serta merendahkan diri dan siap untuk menerima injakan dan cobaan dari Penciptanya. Dalam hal ini Self-managing sangat berperan untuk lebih mengetahui dengan jelas apa yang ingin kita capai, selanjutnya adalah mengelola diri kita untuk mencapai tujuan tersebut.
Manusia itu Ada dari tiada menjadi ada dan akan tiada untuk ada, manusia lahir dalam keadaan lemah kemudian tumbuh besar menjadi kuat, sakit dikit menjadi lemah sembuh merasa kuat tua menjadi lemah, manusia itu dari lahir bodoh kemudian belajar menjadi pintar semakin blajar semakin merasa bodoh dan ahirnya akan menjadi pintar, tua renta akan semakin pelupa dst. Daur kehidupan haruslah difikirkan dan direnungkan agar lebih mengetahui tujuan dari hidup ini. Daur kehidupan ini akan terjawab setelah kita merenungi dan memahami ” Dari mana dan akan ke mana?” yang menuntut kita untuk mencari jawabannya. Di dalam Alquran ditegaskan bahwa, “… Sesungguhnya kita semua kepunyaan Allah dan akan kembali kepada-Nya” menunjukan bahwa tujuan kita hidup semata mata untuk kembali kepadaNya Sang Maha Pencipta, kata kasarnya, tujuan hidup kita adalah Mati, Namun kita tidak bisa melupakan atau mengenyampingkan Apa Tugas yang dibebani oleh Allah S.W.T dalam mengisi hidup di dunia untuk dipertanggungjawabkan setelah mencapai tujuan hidup nanti.
Manusia tidak tahu kapan akan mencapai tujuan hidupnya yaitu mati, karena itu siapkanlah diri untuk menghadapi kematian dengan sebaik-baiknya. Dengan kata lain, “Belajarlah mati sebelum mati” (Mutuu qabla an tamuutuu), yaitu belajar dan berusaha agar kita selalu siap, agar sewaktu-waktu bila telah sampai pada tujuan, kembalilah dengan selamat dan bahagia. yaitu matinya orang orang yang bertakwa, yang hatinya selalu berzikir dan ingat kepada Allah dalam keadaan apa pun, dalam Al qur’an dijelaskan ” Wajah-wajah mereka (orang-orang beriman) pada hari itu berseri-seri. Mereka melihat kepada Tuhannya.
Dengan menentukan tujuan hidup, maka kita dapat menentukan sasaran/target hidup dan bagaimana kita menggunakan waktu kita.
A.2 Tujuan Pendidikan
Filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam pendidikan (Kneller, 1971). Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan.
Seorang guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan. Seorang guru perlu memahami dan tidak boleh buta terhadap filsafat pendidikan, karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan . Tujuan pendidikan perlu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan hidup. Guru sebagai pribadi mempunyai tujuan hidupnya dan guru sebagai warga masyarakat mempunyai tujuan hidup bersama.
Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik (guru). Hal tersebut akan mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola proses belajar mengajar (PBM). Selain itu pemahaman filsafat pendidikan akan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencoba-coba tanpa rencana dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan.
Kalau kita berbicara tentang pendidikan, tentunya tidak akan terlepas dari masalah apa sih sebenarnya tujuan pendidikan itu. Pendidikan dapat dikatakan berhasil jika sudah mempunyai tujuan-tujuan yang jelas dan ditempuh dengan tindakan-tindakan yang jelas pula. Di Indonesia sendiri, dari masalah pendidikan ini akhirnya muncul polemik-polemik yang harus segera dipecahkan. Kalau boleh bicara jujur, sebenarnya pendidikan di Indonesia ini masih dapat dikatakan belum berhasil. Terbukti dengan semakin tingginya angka pengangguran di setiap tahunnya.














BAB II
PEMBAHASAN
A. TUJUAN HIDUP
Allah menciptakan alam semesta (termasuk manusia) tidaklah dengan palsu dan sia-sia (QS. As-Shod ayat 27). Segala ciptaan-Nya mengandung maksud dan manfaat. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang paling mulia, sekaligus sebagai khalifah di muka bumi, manusia harus meyadari terhadap tujuan hidupnya. Dalam konteks ini, al-Qur’an menjelaskan, bahwa manusia memiliki bebrapa tujuan hidup, diantaranya adalah sebagai berikut;
  • Menyembah Kepada Allah (Beriman)
Keberadaan manusia di muka bumi ini bukanlah ada dengan sendirinya. Manusia diciptakan oleh Allah, dengan dibekali potensi dan infrastruktur yang sangat unik. Keunikan dan kesempurnaan bentuk manusia ini bukan saja dilihat dari bentuknya, akan tetapi juga dari karakter dan sifat yang dimiliki oleh manusia. Sebagai ciptaan, manusia dituntut memiliki kesadaran terhadap posisi dan kedudukan dirinya di hadapan Tuhan. Dalam konteks ini, posisi manusia dihadapan Tuhan adalah bagaikan “hamba” dengan “majikan” atau “abdi” dengan “raja”, yang harus menunjukan sifat pengabdiaan dan kepatuhan.
Sebagai agama yang haq, Islam menegaskan bahwa posisi manusia di dunia ini adalah sebagai ‘abdullah (hamba Allah). Posisi ini menunjukan bahwa salah satu tujuan hidup manusia di dunia adalah untuk mengabdi atau beribadah kepada Allah. Yang dimaksud dengan mengabdi kepada Allah adalah taat dan patuh terhadap seluruh perintah Allah, dengan cara menjalankan seluruh perintah-perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya dalam segala aspek kehidupan. Dalam hal ini, Allah Swt. menjelaskan dalam firman-Nya, bahwa tujuan hidup manusia adalah semata-mata untuk mengabdi (beribadah) kepada-Nya (QS. Adz-Dzariyat ayat 56 dan QS. Al-Bayyinah ayat 5).[1]
Makan beribadah sebagaimana dikemukakan di atas (mentaati segala perintah dan menjauhi larangan Allah) merupakan makna ibdah secara umum. Dalam tataran praktis, ibadah secara umum dapat diimplementasikan dalam setiap aktivitas yang diniatkan untuk menggapai keridlaan-Nya, seperti bekerja secara professional, mendidik anak, berdakwah dan lain sebagainya. Dengan demikian, misi hidup manusia untuk beribadah kepada Allah dapat diwujudkan dalam segala aktivitas yang bertujuan mencari ridla Allah (mardlotillah).
Sedangkan secara khusus, ibadah dapat dipahami sebagai ketaatan terhadap hukum syara’ yang mengatur hubungan vertical-transendental (manusia dengan Allah). Hukum syara’ ini selalu berkaitan dengan amal manusia yang diorientasikan untuk menjalankan kewajiban ‘ubudiyah manusia, seperti menunaikan ibadah shalat, menjalankan ibadah puasa, memberikan zakat, pergi haji dan lain sebagainya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan hidup manusia yang pertama adalah menyembah kepada Allah. Dalam pengertian yang lebih sederhana, tujuan ini dapat disebut dengan “beriman”. Manusia memiliki keharusan menjadi individu yang beriman kepada Allah (tauhid). Beriman merupakan kebalikan dari syirik, sehingga dalam kehidupannya manusa sama sekali tidak dibenarkan menyekutukan Allah dengan segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini (Syirik).
  • Memanfaatkan Alam Semesta (Beramal)
Manusia adalah puncak ciptaan dan makhluk Allah yang tertinggi (QS. at-Tien ayat 4). Sebagai makhluk tertinggi, disamping menjadi hamba Allah, manusia juga dijadikan sebagai khalifah atau wakil Tuhan dimuka bumi (QS. al-Isra’ ayat 70). Di samping itu, Allah juga menegaskan bahwa manusia ditumbuhkan (diciptakan) dari bumi dan selanjutnya diserahi untuk memakmurkannya (QS. Hud ayat 16 dan QS. al-An’am ayat 165). Dengan demikian, seluruh urusan kehidupan manusia dan eksistensi alam semesta di dunia ini telah diserahkan oleh Allah kepada manusia.[2]
Perintah memakmurkan alam, berarti perintah untuk menjadikan alam semesta sebagai media mewujudkan kemaslahatan hidup manusia di muka bumi. Al-Qur’an menekankan bahwa Allah tidak pernah tak perduli dengan ciptaan-Nya. Ia telah menciptakan bumi sebanyak Ia menciptakan langit, yang kesemuanya dimaksudkan untuk menjamin kesejahteraan lahir dan batin manusia. Ia telah menciptakan segala sesuatu untuk kepentingan manusia. Bintang diciptakan untuk membantu manusia dalam pelayaran, bulan dan matahari diciptakan sebagai dasar penanggalan. Demikian juga dengan realitas kealaman yang lainnya, diciptakan adalah dengan membekal maksud untuk kemaslahatan manusia.
Untuk menjadikan realitas kealaman dapat dimanfaatkan oleh manusia, Allah telah membekalinya dengan potensi akal. Di samping itu, Allah juga telah mengajarkan kepada manusia terhadap nama-nama benda yang ada di alam semesta. Semua ini diberikan oleh Allah adalah sebagai bekal untuk menjadikan alam semesta sebagai media membentuk kehidupan yang sejahtera lahir dan batin. Dalam hal ini Allah menegaskan bahwa manusia harus mengembara dimuka bumi, dan menjadikan seluruh fenomena kelaman sebagai pelajaran untuk meraih kebahagian hidupnya (QS. Al-Ankabut ayat 20 dan QS. Al-Qashash ayat 20).
Berdasarkan uraian di atas, maka sangat jelas bahwa dalam kehidupannya manusia memiliki tujuan untuk memakmurkan alam semesta. Implementasi tujuan ini dapat diwujudkan dalam bentuk mengambil i’tibar (pelajaran), menunjukan sikap sportif dan inovatif serta selalu berbuat yang bermanfaat untuk diri dan lingkungannya. Dalam konteks hubungannya dengan alam semesta, dalam kehidupannya manusia memiliki tujuan untuk melakukan kerja perekayasaan agar segala yang ada di alam semesta ini dapat bermanfaat bagi kehidupannya. Dengan kata lain, tujuan hidup manusia yang semacam ini dapat dikatakan dengan tujuan untuk “beramal”.
  • Membentuk Sejarah Dan Peradaban (Berilmu)
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, Allah menciptakan alam semesta ini dengan pasti dan tidak ada kepalsuan di dalamnya (QS. Shod ayat 27). Oleh Karena itu, alam memiliki eksistensi yang riil dan obyektif, serta berjalan mengikuti hukum-hukum yang tetap (sunnatullah). Di samping itu, sebagai ciptaan dari Dzat yang merupakan sebaik-baiknya pencipta (QS. al-Mukminun ayat 14), alam semesta mengandung nilai kebaikan dan nilai keteraturan yang sangat harmonis. Nilai ini diciptakan oleh Allah untuk kepentingan manusia, khususnya bagi keperluan perkembangan sejarah dan peradabannya (QS. Luqman ayat 20). Oleh karena itu, salah satu tujuan hidup manusia menurut al-Qur’an di muka bumi ini adalah melakukan penyelidikan terhadap alam, agar dapat dimengerti hukum-hukum Tuhan yang berlaku di dalamnya, dan selanjutnya manusia memanfaatkan alam sesuai dengan hukum-hukumnya sendiri, demi kemajuan sejarah dan peradabannya.[3]
Proses pemanfaatan alam semesta dalam kehidupan manusia diwujudkan dengan perbuatan dan aktivitas riil yang memiliki nilai guna. Perbuatan atau aktivitas riil yang dijalankan manusia dimuka bumi ini selanjutnya membentuk rentetan peristiwa, yang disebut dengan “sejarah”. Dunia adalah wadah bagi sejarah, dimana manusia menjadi pemilik atau rajanya. Hidup tanpa sejarah adalah kehidupan yang dialami oleh manusia setelah kematian. Karena dalam kehidupan pasca kematian manusia hanya diharuskan mempertanggungjawabkan terhadap sejarah yang telah dibuat atau dibentuk selama dalam kehidupannya di dunia. Dengan demikian, dalam kehidupannya di dunia, manusia juga memiliki tujuan untuk membentuk sejarah dan peradabannya yang baik, dan selanjutnya harus dipertanggungjawabkan di hadapatn Tuhannya.
Urain dapat membentuk sejarahnya, manusia harus selalu iqra’ atau membaca alam semesta. Dengan kata lain, manusia harus menjadikan alam semesta sebagai media mengembangkan ilmu dan pengetahuannya. Oleh karena itu, tujuan manusia membentuk sejarah dan peradaban ini dapat dikatakan sebagai tujuan menjadi manusia yang “berilmu”.
Berdasarkan uraian tentang tujuan-tujuan hidup manusia di atas, dapat ditarik benang merah, bahwa menurut al-Qur’an manusia setidaknya memiliki 3 tujuan dalam hidupnya. Ketiga tujuan tersebut adalah; pertama, menyembah kepada Allah Swt. (beriman). Kedua, memakmurkan alam semesta untuk kemaslahatan (beramal) dan Ketiga, membentuk sejarah dan peradabannya yang bermartabat (berilmu). Dengan kata lain, menurut al-Qur’an, tugas atau tujuan pokok hidup manusia dimuka bumi ini sebenarnya sangatlah sederhana, yakni menjadi manusia yang “beriman”, “beramal” dan “berilmu”. Keterpaduan ketiga tujuan hidup manusia inilah yang menjadikan manusia memiliki eksistensi dan kedudukan yang berbeda dari makhluk Allah lainnya.
Allah SWT berfirman yg artinya “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yg sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yg serendah-rendahnya kecuali orang-orang yg beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yg tiada putus-putusnya.” . [4]
B. TUJUAN PENDIDIKAN
B.1. Hakikat Tujuan Pendidikan Berdasarkan Fitrah Manusia
Fitrah artinya bersih tanpa dosa dan noda,baik dalam akal maupun nafsunya.manusia yang masih fitrah adalah manusia yang masih bersih dari dosa, menurut imaduddin abdurrahiem, manusia yang fitrah berarti manusia yang tend to be good.artinya manusia cenderung pada kebertuhanan dan pada kebaikan.
            Dengan fitrahnya, manusia dapat mengembangkan kekuatan jiwanya untuk mengetahui dan mengenal lebih dekat tuhan yang telah menciptakannya. Kekuatan manusia di bantu dengan kekuatan akal yang memiliki kemampuan untuk memikirkan sesuatu hal yang baik dan yang buruk bagi diri manusia dan lingkungannya serta memilih dan memilah segala sesuatu yang menurutnya terbaik.
            Dengan demikian ,secara filosofis konsep fitrah manusia adalah sebagai berikut:
1.      Manusia telah di tetapkan oleh Allah lahir dalam keadaan fitrah ,terbebas dari segala bentuk dosa.
2.      Kebutuhan fitrah manusia tidak akan bisa di rubah oleh siapapun
3.      Perubahan yang di paksakan terhadap fitrah manusia tidak akan langgeng
4.      Ilmu pengetahuan merupakan salah satu kebutuhan fitrah manusia karna dengan ilmu pengetahuan ,secara sadar atau tidak manusia memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mempertahankan kehidupannya.
5.      Sesuai dengan kesuciannya dalam struktur manusia Allah telah memberi seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kemampuan berkembang.
Dengan demikian ,konsep fitrah manusia dalam filsafat pendidikan melipui 5 hal mendasar
Yaitu:
1.      Manusia pada dasarnya merupakan mahluk Allah yang bersih dari dosa dan kotran nafsu duniawi
2.      Allah memberikan roh fitrah kepada manusia dalam bentuk keinginan dan kecenderungan memcari kebenaran
3.      Fitrah,cenderung pada kebenaran dan pasrah pada kehendak Allah
4.      Kehendak fitrah manusia yang mendasar atas memcari ilmunya pengetahuan
5.      Pengaruh lingkungan keluarga,lingkungan sekolah,dan lingkungan masyarakat dapat mengotori nilai-nilai ftrah manusia.Dalam uraian lain arifin menegaskan bahwa untuk mengembangkan kemampuan dasar di atas pendidikan merupakan sarana yang menentukan titik optimal kemampuan-kemampuan tersebut dapat di capai.
Dengan konsepsi fitrah di atas pengembangan pendidikan yang berbasis pada fitrah adalah pendidikan yang mengembangkan bahan ajar sebagai berikut:
1)      Pengembangan pendidikan ketuhanan, yaitu pendidikan tentang keimanan kepada keEsaan Allah SWT
2)      Pengembangan pendidikan sosial
3)      Pengembangan pendidikan kealaman
4)      Pengembangan pendidikan ekonomi
5)      Pengembangan pendidikan tingkah laku
6)      Pengembangan pendidikan kebudayaan
Dengan demikian anak-anak dalam keliarga tidak termasuk peserta didik karna dalam pendidikan di keluarga tidak ada proses pembelajaran yang mengikuti jalir,jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.pendidikan dalm keluarga yang di lakukan oleh kedua orang tua maupun oleh anggota keluarga lainnya hanya merupakan pelaksanaan tanggung jawab dan kewajiban pendidikan dalam keluarga.
            Bimbingan orang tua meliputi: 
1.      Memberi teladan yang baik
2.      Membiasakan anak bersikap baik
3.      Menyajikan cerita-cerita yang baik
4.      Menerangkan dalam segala hal yang baik
5.      Membina daya kreatif anak
6.      Mengontrol,membimbing dan mengawasi perilaku anak dengan baik
7.      Memberikan sanksi yang bernilai pelajaran dengan baik
Dalam pengembangan pendidikan yang di kaitkan dengan anak didik,perlu di perhatikan aspek-aspek yang penting di kembangkan dari peserta didik,yaitu:
1)      Aspek pedagigis yaitu seluruh manusia memerlukan pendidikan
2)      Aspek sosiologis yaitu manfaat pendidikan bagi manusia dalam pergaulannya dengan manusia
3)      Aspek filosofis yaitu pengembangn cara berfikir anak didik yang di perkaya oleh kematangan dan teknik berfikir dan radikal ,logis,kritis, dan sistematis,juga kontemplatif
4)      Aspek kultural pengebangan pendidikan yang di terapkan kepada peserta didik guna membangnkitkan kreatifitasnya daya cipta dan karyanya dalam ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan di masyarakat
5)      Aspek relijiusitas yaitu pengembangna pendidikan yang menguatkan keberagaman,keyakinan  atau keimanan peserta didik.
6)      Aspek pertumbuhan anak yaitu pengembangan pendidikan yang berkaitan dengan pertumbuhan anak yang berdasarkan pada biologis anak,psikologis dan didaktisnya.[5]
Setiap jenjang pendidikan yang di lalui oleh peserta didik berkaitan dengan pengembangan potensi dan pendidikan keterampilan peserta didik. Oleh karna itu ,semua lembaga pendidikan harus berupaya mengembangkan kurikulumnya untuk membekali anak didik  dengan ilmu pengetahuan teoretis dan praktis.dengan demikian, seluruh pendidikan bertujuan untuk memberikan bekal ilmu pengetahuan yang sifatnya teori dan keterampilan menerapkan teori dalam kehidupan,sehingga peserta didik lulus dari pendidikannya ia memiliki kecakapan yang siap di pakai dalam jenis pekerjaan yang di pilihnya.
Proses pendidikan adalah proses perkembangan yang bertujuan. Tujuan proses perkembangan itu secara almiah adalah kedewasaan, sebab potensi manusia yang paling alamiah adalah bertumbuh menuju tingkat kedewanaan, kematangan. Potensi ini akan dapat terwujud apabila prakondisi almiah dan sosial manusia bersangkutan memungkinkan untuk perkembangan tersebut, misalnya iklim, makanan, kesehatan, dan keamanan, relatif sesuai dengan kebutuhan manusia. Kedewasaan yang yang bagaimanakah yang diinginkan dicapai oleh manusia, apakah kedewasaan biologis-jasmaniah, atau rohaniah (pikir, rasa, dan karsa), atau moral (tanggung jawab dan kesadaran normatif), atau kesemuanya. Persoalan ini adalah persoalan yang amat mendasar, yang berkaitan langsung dengan sisitem nilai dan standar normatis sebuah masyarakat (Noor, 196). Cara kerja dan hasil filsafat dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah hidup dan kehidupan manusia, dimana pendidikan merupakan salah satu dari aspek kehidupan tersebut, karena hanya manusialah yang dapat melaksanakan dan menerima pendidikan.
Oleh karena itu pendidikan memerlukan filsafat. Karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan uncul masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, dan lebih kompleks, yang tidak terbatasi oleh pengalmaan maupun fakta faktual, dan tidak memeungkinkan untuk dijangkau oleh ilmu. Seorang guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat dan filsafat pendidikan. Seorang guru perlu memahami dan tidak buta terhadap filsafat pendidikan, karena tujuan pendidikan selalu berbungan langsung dengan tujuan kehidupan individu dan masyarakat penyelenggara pendidikan. Hubungan antar filsafat dengan pendidikan adalah, filsafat menelaah suatu realitas dengan luas dan menyeluruh, sesuai dengan karateristik filsafay yang radikal, sistematis, dan menyeluruh. Konsep tentang dunia dan tujuan hidup manusia yang merupakan hasil dari studi filsafat, akan menjadi landasan dalam menyusun tujuan pendidikan. Nantinya bangun sistem pendidikan dan praktek pendidikan akan dilaksanaka berorientasi kepada tujuan pendidikan ini. Brubacher (1950) (Sadulloh, 2003) mengemukakan hubungan antar filsafat dengan filsafat pendidikan: bahwa filsafat tidak hanya melahirkan ilmu atau pengetahuan baru, melainkan juga melahirkan filsafat pendidikan. Bahkan Jhon Dewey berpendapat bahwa filsafat adalah teori umum pendidikan. Filsafat pendidikan haruslah minimal dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam pendidikan.
Sadulloh merumuskan empat pertanyaan mdasar pendidikan sebagai berikut. 1. Apakah pendidikan itu? 2. Mengapa manusia harus melaksanakan pendidikan? 3. Apakah yang seharusnya dicapai dalam proses pendidikan? 4. Dengan cara bagaimana cita-cita pendidikan yang tersurat maupun yang etrsirat dapat dicapai? Jawaban atas keempat pertanyaan tersebut akan sangat tergantung dan akan ditentukan oleh pandangan hidup dan tujuan hidup manusia, baik secara individu maupun secara bersama-sama (masyarakat/ bangsa). Filsafat pendidikan tidak hanya terbatas pada fakta faktual, tetapi filsafat pendidikan harus sampai pada penyelasian tuntas tentang baik dan buruk, tentang persyaratan hidup sempurna, tentang bentuk kehidupan individual maupun kehidupan sosial yang baik dan sempurna. Ini berarti pendidikan adalah pendidikan adalah pelaksanaan dari ide-ide filsafat. Dengan kata lain filsafat memberikan asas kepastian bagi nilai peranan pendidikan, lembaga pendidikan dan aktivitas penyelengaraan pendidikan. Jadi peranan filsafat pendidikan merupakan sumber pendorong adanya pendidikan. Dalam bentuk yang lebih terperinci lagi, filsafat pendidikan menjadi jiwa dan pedoman asasi pendidikan. Pendidikan merupakan usaha untuk merealisasikan ide-ide ideal dari filsafat menjadi kenyataan, tindakan, tingkah laku, dan pembentukan kepribadian.[6]
Tujuan pendidikan seharusnya adalah mengenal Allah SWT. Semakin kenal seseorang terhadap Allah SWT, maka orang tersebut akan semakin
menyadari ‘kehadiran’-Nya dalam setiap keadaan, sehingga terlindungi
dari sifat curang, mulai dari yang kecil sampai dengan yang besar.
Kedekatan dengan khaliq juga berdampak kepada semakin hebatnya daya
manfaat seseorang kepada lingkungannya, karena ilmu-Nya akan mengalir
deras kepada yang bersangkutan. Sekarang ini pendidikan terlalu diarahkan ke tujuan-tujuan yang sifatnya duniawi, jauh dari tujuan untuk mengenal Allah SWT.
Manifestasi tujuan duniawi dapat kita lihat pada tujuan pendek
pendidikan kita yang berorientasi pada nilai akademik semata (nilai
akademik pun hanya untuk mengukur kekuatan menghafal), sedangkan
tujuan akhirnya adalah uang dan status sosial.
Kesalahan tujuan jangka pendek pendidikan berakibat pada pendidikan
yang berbasis kepada kurikulum semata dan semakin menafikkan peran
guru. Ketika hal ini terjadi, guru hanya berperan sebatas sebagai
pengajar (yang hanya mengajarkan materi-materi pelajaran), tidak
sebagai pendidik (selain memberikan materi pelajaran, tapi juga
nilai-nilai lain, seperti etika, akhlak, ruh ilmu yang diajarkan dll).
Ini disebabkan kebijakan pemerintah yang lebih berminat mengalokasikan
dana untuk pembuatan buku-buku kurikulum yang tebal-tebal (sehingga
dapat dikorup), ketimbang memperbaiki kesejahteraan para guru.
Dampak ke siswa adalah mereka berorientasi sebatas pada materi
pelajaran akademik (yang berbasis kepada memorizing itu), sehingga
tidak heran kita temui para siswa kita tidak sungkan-sungkan untuk
mencontek ketika ujian atau doyan tawuran atau hidup secara hedonistik
atau menjadi para pembangkang. Hal tersebut disebabkan tidak
bersemainya nilai-nilai etika dan akhlaq pada lubuk hati mereka.
Cahaya Tuhan tidak menyinari hati mereka, disebabkan para guru tidak
dapat menjadi agen ilmu-Nya dengan baik; ilmu sebatas tertulis secara
kering di kertas, tidak pernah menyinari para siswa (bahkan mungkin
para gurunya sendiri).
Kesalahan tujuan jangka panjang pendidikan berakibat pada sifat tamak
para siswa. Bagi yang mengejar uang, maka mereka terkondisi sebagai
koruptor-koruptor ulung, jika bekerja di pemerintahan, dan menjadi
para kapitalis yang tidak berhati nurani, jika berada di swasta. Bagi
yang mengejar status sosial, misalnya dalam dunia sains dan teknologi,
mereka tidak sungkan-sungkan melakukan kecurangan-kecurangan demi
prestasi yang berakibat pada status sosial. Hal-hal tersebut sebagai
akumulasi akibat pendidikan yang tidak berupaya menghadirkan Allah
SWT. Output pendidikan sekuler menghasilkan para manusia yang tidak
mengenal etika, akhlaq dan cahaya ilmu, sehingga mereka berbuat
kerusakan, baik skala kecil atau pun besar.
Seseorang disekolahkan oleh orang tuanya tentu agar menjadi seseorang yang cerdas dan berperilaku baik. Itu adalah tujuan diadakannya pendidikan di negara indonesia, yaitu Taqwa, Cerdas dan Terampil. Dengan tujuan ini sudah seharusnyanya seseorang yang telah memasuki dunia pendidikan harus berbeda dengan orang yang belum pernah mengenyam pendidikan. Perbedaan itu tentu harus terlihat dari ketaqwaan, kecerdasan dan ketrampilannya. Manakala tidak ada perbedaan apalah artinya pendidikan baginya.
Semakin tinggi pendidikan seseorang, dari sisi ketaqwaan maka dia harus lebih bertaqwa. Mengapa? Karena semakin tinggi pendidikan berarti dia semakin tau tentang hal yang baik dan yang buruk, mana yang jahat dan tidak jahat. Kalau dia tidak semakin taqwa, dia pasti akan menjadi seseorang yang sombong, angkuh karena telah mampu mengenyam pendidikan yang tinggi. Dari sisi perasaan seseorang yang berpendidikan tinggi pasti lebih egois dan kurang menghargai perasaan orang lain jika tujuan taqwa ini tidak ada padanya. Karena dengan peningkatan ketaqwaan ini seseorang akan lebih santun, berakhlak mulia dan dapat menghargai perasaan sesama, tentunya dengan pengetahuan yang dia miliki.
Kemudian seseorang yang berpendidikan pasti menjadi lebih cerdas. Ini menjadi tujuan utama orang tua memasukkan anaknya untuk masuk dunia pendidikan. Terkadang orang tua lupa bahwa ketaqwaan adalah modal utama untuk hidup (sisi rohani). Orang yang cerdas tidak bertaqwa dia akan menjadikan kecerdasannya untuk mengbohongi orang lain, dan hal negatif lainnya.[7]





BAB III
KESIMPULAN
Mengetahui tujuan hidup tidak akan terlepas dari siapa yang memberikan kehidupan sebagai asal kehidupan itu sendiri, dan mengetahui asal dari kehidupan tidak bisa terlepas dari pengenalan terhadap diri sendiri, sebagai mana dijelaskan oleh Imam Ali a.s. dalam Nahjul Balaghah bahwa, “Awwaluddiin ma’rifatuhuu…” artinya “Awal agama adalah mengenal Allah”. Yang telah memberikan kehidupan. Dalam kesempatan yang lain Imam Ali a.s. menyatakan, “Siapa yang mengenal dirinya pasti mengenal Tuhannya”. karan diri adalah ego yang sering membuat manusia itu egois dengan dirinya, lupa akan siapa dirinya yang tercipta dari segumpal darah menjadi segumpal daging serta tanah tak tak bernilai, jika manusia sadar mengapa dia tercipta dari tanah yang rendah dan slalu diinjak injak pasti dia akan menyadari bahwa hidupnya hanyalah seorang budak yang setiap saat tunduk serta merendahkan diri dan siap untuk menerima injakan dan cobaan dari Penciptanya.
Proses pendidikan adalah proses perkembangan yang bertujuan. Tujuan proses perkembangan itu secara almiah adalah kedewasaan, sebab potensi manusia yang paling alamiah adalah bertumbuh menuju tingkat kedewanaan, kematangan. Potensi ini akan dapat terwujud apabila prakondisi almiah dan sosial manusia bersangkutan memungkinkan untuk perkembangan tersebut, misalnya iklim, makanan, kesehatan, dan keamanan, relatif sesuai dengan kebutuhan manusia. Kedewasaan yang yang bagaimanakah yang diinginkan dicapai oleh manusia, apakah kedewasaan biologis-jasmaniah, atau rohaniah (pikir, rasa, dan karsa), atau moral (tanggung jawab dan kesadaran normatif), atau kesemuanya. Persoalan ini adalah persoalan yang amat mendasar, yang berkaitan langsung dengan sisitem nilai dan standar normatis sebuah masyarakat (Noor, 196). Cara kerja dan hasil filsafat dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah hidup dan kehidupan manusia, dimana pendidikan merupakan salah satu dari aspek kehidupan tersebut, karena hanya manusialah yang dapat melaksanakan dan menerima pendidikan.


DAFTAR PUSTAKA
Linda. 2005. Perlukah Mencari Tujuan Hidup. Http/google/tujuanhidup
Purwanto, Edi. 2008. Apakah Tujuan Pendidikan. http/google/tujuanpendidikan
Sadulloh, Uyoh. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. CV Alfabeta, Bandung.
Luluvikar. 2004. Apa Tujuan Hidupmu. http/google/tujuanhidup
Tafsir, Ahmad, 2011, Filsafat Pendidikan, CV Pusataka Setia, Bandung






[5] Prof. Dr. H. A. Tafsir, Filsafat Pendidikan, (Bandung; CV Pustaka Setia, 2011), Cetakan ke 10, hal 173
[6] Uyoh Sadulloh. Penagntar Filsafat Pendidikan, (Bandung; Alfabeta, 2012), cetakan kedelapan, hal 74

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BALAKANG
Masa anak-anak dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia dua tahun sampai saat anak matang secara seksual, yakni kira-kira umur 13 tahun untuk wanita dan 14 tahun untuk bagi pria, terjadi sejumlah perubahan yang signifikan,baik secara fisik maupun psikologis. Sejumlah ahli membagi masa anak-anak ke dalam dua periode, yaitu masa anak-anak awal dan masa anak-anak akhir. Masa anak-anak awal berawal sejak umur 2 tahun sampai 6 tahun, dan masa anak-anak akhir dari usia 6 tahun sampai saat anak matang secara seksual (Hurlock,  1980). Dalam makalah ini hanya akan dibahas perkembangan masa anak-anak awal atau yang sering juga disebut masa prasekolah. Sedangkan perkembangan masa akhir anak-anak akan dibahas pada bab yang lain.
B. RUMUSAN MASALAH
  1. menjelaskan perkembangan yang terjadi saat masa anak-anak awal?
  2. Perkembangan apa saja yang akan dialami pada saat perkembangan masa anak-anak awal?
  3. Perubahan apa saja yang akan terjadi?

























BAB II
POKOK PEMBAHASAN

A.    PERKEMBANGAN FISIK
Selama masa-masa anak-anak awal, pertumbuhan fisik berlangsung lambat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan selama masa bayi. Pertubuhan fisik yang lambat ini berlangsung sampai mulai munculnya tanda-tanda pubertas, yakni kira-kira dua tahun menjelang matang secara seksual dan petumbuhan fisik kembali berkembang pesat. Meskipun selama masa anak-anak pertumbuhna fisik mengalami perlambatan, namun keterampilan-keterampilan motorik kasar dan motorik halus justru berkembang pesat.
  1. TINGGI DAN BERAT BADAN
Selama masa anak-anak awal, tinggi rata-rata anak bertumbuh 2.5 inci dan berat bertambah antara 2,5 hingga 3,5 kg setiap tahunnya. Pada usia 3 tahun, tinggi anak sekitar 38 inci dn beratnya sekitar 16,5 kg. pada usia 5 tahun, tinggi anak mencapai 43.6 inci dan beratnya 21,5 kg (Mussen, Conger & Kagan, 1969). Ketika anak usia prasekolah bertumbuh makin besar, prsentase pertumbuhan dalam dan tinggi berat berkurang setiap tahun. Selama masa ini, baik laki-laki maupun perempuan terlihat makin langsing, sementara batang tubuh mereka makin panjang.
  1. PERKEMBANGAN OTAK
Di antara perkembangan fisik yang sangat penting selama masa anak-anak awal ialah perkembangan otak dan system syaraf yang berkelanjutan. Meskipun otak terus bertumbuh pada masa anak-anak awal, namun pertumbuhannya tidak sepesat pada masa bayi. Pada saat mencapai usia 2 tahun, ukuran otaknya rata-rata 75% dari otak orang dewasa, dan pada usia 5 tahun, ukuran otaknya telah mancapai sekitar 90% otak orang dewasa (Yeterian & Pandya, 1988).

  1. PERKEMBANGAN MOTORIK
Perkembangan fisik pada masa anak-anak ditandai dengan berkembangnya keterampilan motorik, baik kasar maupun halus. Sekitar usia tiga tahun, anak sudah dapat berjalan dengan baik, dan sekitar usia empat tahun anak hampir menguasai cara berjalan orang dewasa. Usia lima tahun anak sudah terampil menggunakan kakinya untuk berjalan dengan berbagai cara, seperti maju dan mundur, jalan cepat dan pelan-pelan, melompat dan berjingkrak, berlari ke sana dan kemari, memanjat dan sebagainya yang semuanya dilakukan dengan lebih halus dan bervariasi. Anak usia lima tahun juga dapat melakukan tindakan-tindakan tertentu secara akurat, seperti menyeimbangkan badan diatas satu kaki, menangkap bola dengan baik, melukis, menggunting dan melipat kertas, dan sebagainya.

  1. PERKEMBANGAN KOGNITIF
Seiring dengan meningkatnya kemampuan anak untuk mengeksplorasi lingkungan, karena bertambah besarnya koordinasi dan pengendalian motorik yang disertai dengan meningkatnya kemampuan untuk bertanya dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimngerti orang lain, maka dunia kognitif anak berkembang pesat, makin kreatif, bebas, dan imajinatif. Imajinasi anak-anak prasekolah terus bekerja, dan daya serap mentalnya tentang dunia makin meningkat. Peningkatan pengertian anak-anak tentang orang, benda dan situasi baru diasosiasikan dengan arti-arti yang telah dipelajari selama masa bayi.

  1. 1. Perkembangan Kognitif Menurut Teori Piaget.
Sesuai dengan teori kognitif Piaget, maka perkembangan kognitif pada masa awal anak-anak dinamakan tahap praoperasional (Praoperational Stage) , yang berlangsung dari usia 2 hingga 7 tahun. Pada tahap ini, konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul, egosentrisme mulai kuat dan kemudian melemah, serta terbentuknya keyakinan terhadap hal yang magis. Tetapi, sebagai “pra” dalam istilah “praoperasional”, menunjukkan bahwa pada tahap ini teori Piaget difokuskan pada keterbatasan pemikiran anak. Istilah operasional menunjukkan pada aktifitas mental yang memungkinkan anak untuk memikirkan peristiwa-peristiwa atau pengalaman-pengalaman yang dialaminya.

Subtahap Prakonseptual (2-4 tahun)
Subtahap prakonseptual disebut juga dengan pemikiran simbolik (symbolic thought), karena karakteristik utama subtahap ini ditandai dengan munculnya system-sistem lambang atau symbol, seperti bahasa. Subtahap prakonseptual merupakan subtahap pemikiran praoperasional yang terjadi kira-kira antara usia 2 hingga 4 tahun. Pada subtahap ini anak-anak mengembangkan kemampuan untuk menggambarkan atau membayangkan secara mental suatu objek yang tidak ada (tidak terlihat) dengan sesuatu yang lain. Misalnya, pisau yang terbuat dari plastic adalah sesuatu yang nyata, mewakili pisau yang sebenarnya. Kata pisau sendriri bisa mewakili sesuatu yang abstrak, seperti bantuknya dan tajamnya. Demikian pula tulisan “pisau” akan memberikan tanggapan tertentu. Dengan berkebangnya kemampuan mensimbolisasikan ini, maka anak memperluas ruang lingkup aktivitasnya yang menyangkut hal-hal yang sudah lewat, atau hal-hal yang akan dating, atau juga hal-hal yang sekarang.

Subtahap instuitif (4-7 tahun)
Istilah instuitif digunakan untuk menunjukkan subtahap ke dua dari pemikiran praoperasional yang terjadi pada anak dalam periode dari 4 hingga 7 tahun. Dalam subtahap ini, meskipun aktifitas mental tertentu (seperti cara-cara mengelompokkan, mengukur atau menghubungkan objek-objek) terjadi, tetapi anak-anak belum begitu sadar mengenai prinsip-prinsip yang melandasi terbentuknya aktifitas tersebut. Walaupun anak dapat memecahkan masalah yang berhubungan dengan aktifitas ini, namun ia tidak bisa menjelaskan alas an yang tepat untuk memecahkan masalah-masalah tertentu dengan cara-cara tertentu.
Jadi, walaupun symbol-simbol anak meningkat kompleks, namun proses penalaran dan pemikirannya masih mempunyai cirri-ciri keterbatasan tertentu. Sebagian dari keterbatasan ini direfleksikan dalam ketidakmampuan anak praoperasional untuk mengelompokkan beberapa hal berdasarkan dimensi tertentu, seperti mengelompokkan tongkat menurut urutan dari yang paling pendek ke yang paling panjang. Keterbatasan juga ditemukan dalam menghubungkan bagian dari keseluruhan.


  1. PERKEBANGAN PERSEPSI
Meskipun persepsi sudah berkembang sejak awal kehidupan, namun hingga masa anak-anak awal atau prasekolah, kemampuan atau kapasitas mereka untuk memproses informasi masih terbatas. Kadang-kadang anak-anak prasekolah dapat merasakan stimulus penglihatan dan pendengaran seperti yang dirasakan oleh orang dewasa, tetapi di lain waktu mereka tidak dapat merasakannya. Anak-anak prasekolah dapat membuat penilaian perceptual sederhana (seperti membedakan isi dari dua gelas tadi) sebagai mana yang dapat dilakukan oleh orang dewasa, sepanjang penilaian itu melibatkan memori atau reoraganisasi kognitif yang relative kecil. Tetapi penilaian yang membutuhkan pemikiran yang lebih kompleks, anak prasekolah sering mengalami banyak kesalahan dalam apa yang mereka dengar dan mereka lihat. Hal ini karena perhatiannya dibelokkan jauh dari stimulus nyata pada pemprosesan stimulus ini.

  1. PERKEMBANGAN MEMORI.
Dibandingkan dengan bayi , mengukur memori anak-anak jauh lebih mudah karena anak-anak telah dapat memberikan reaksi secara verbal. Meskipun demikian tugas-tugas anak masih sangat sederhana, karena mungkin anak-anak mengalami kesulitan dalam memahami perintah-perintah dari tugas itu, dan mereka mungkin tidak mampu megidentifikasi stimulus tertentu, (seperti huruf alphabet).

  1. PERKEMBANGAN ATENSI
Atensi (attention) atau perhatian merupakan sebuah konsep multi dimensional yang digunakan untuk menggambarkan perbedaan ciri-ciri dan cara-cara merespon dalam system kognitif (Parkin 2000). Menurut Chaplin (2002), atensi adala konsentrasi terhadap aktifitas mental. Sedangkan Margaret W. Matlin (1994), menggunakan istilah atensi untuk merajuk pada konsentrasi terhadap suatu tugas mental, dimana individu mencoba untuk menidakan stimulus lain yang mengganggu. Atensi dapat juga merujuk pada penerimaan beberapa pesan pada suatu waktu dan mengabaikan semua pesan, kecuali pesan tertentu.  
Atensi pada anak telah berkembang sejak masih bayi. Aspek-aspek atensi yang berkembang selama masa bayi ini memiliki arti yang sangat penting selama tahun-tahun prasekolah. Penelitian telah menunjukkan bahwa hilangnya atensi (habituation) dan pulihnya atensi (dishabituation) bila diukur pada enam bulan pertama masa bayi, berkaitan dengan tingginya kecerdasan pada tahun-tahun prasekolah.

  1. PERKEMBANGAN METAKOGNITIF
Sebagai anak yg mulia tumbuh menjadi lebih benar, mereka berusaha mengetahui tentang pikirannya sendir, tentang bagai mana belajar dan mengingat situasi-situasi yg dialami setiap hari, dan bagai mana seseorang dapat meningkatkan penilain kognitif mereke. Para ahli psikologi menyebut tipe pengetahuan ini dengan metakognitif (metacognitive), yaitu pengetahuan tentang kognisi (Wellman, 1988). Menurut Margeret W. Matin (1994), metakognitif adalah’’knowledge and awereness about cognitive processes-or our thoughts about thinking.’’ Jadi, yg dimaksud dengan meta kognitifadlah pengetahuan dan kesadaran tentang proses kognisi atau kesadaran kita tentang pemikiran. Metakognitif merupakan suatu proses menggugah rasa ingin tahu karena kita menggunakan proses kognitif adalah pengetahuan dan kesadaran tentang proses kognisi atau kesadaran kita tentang pemikiran.
  1. PERKEMBANGAN EMOSI
Perkembangan anak yang dimulai dari masa pranatal hingga masa anak-anak akhir merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya di masa-masa yang akan datang. Hal ini seperti dikatakan Freud bahwa kehidupan lima tahun pertama manusia akan menentukan bagaimana seorang manusia akan menjalani kehidupannya kelak di masa yang akan datang. Sehingga dapat dilihat betapa pentingnya perkembangan seseorang itu harus dapat optimal ketika ia berada di masa kanak-kanak, karena pada masa ini akan menentukan tumbuh kembang dirinya di tahapan perkembangan kehidupan selanjutnya. Jika pemahaman ini dapat dipahami oleh seluruh pihak yaitu orang tua, pengasuh, guru serta lingkungan di sekitar anak tersebut tentang pentingnya perkembangan anak, maka hal ini akan membantu semua pihak untuk memberikan perlakuan yang tepat kepada anak-anak. Perlakuan yang tepat ini akan membuat perkembangan emosi pada anak tersebut akan berkembang dengan baik sesuai dengan perkembangan usia anak tersebut.
            Tumbuh kembang seorang anak di masa anak-anak juga banyak timbul bermacam-macam masalah. Selain masalah yang terkait dengan masalah fisik, anak juga akan mengalami masalah yang sifatnya emosional. Masalah-masalah emosional seorang anak ini akan ia tunjukkan lewat tingkah laku yang dipandang sebagai anak yang bermasalah. Beberapa contoh masalah emosional pada anak yang sering kali timbul antara lain :
1.      Temper tantrum tidak pada usianya
2.      Ekspresi emosi yang tidak tepat
3.      Kecemburuan pada sibling yang berlebihan
4.      Sulit ditinggal orang tua untuk bekerja
5.      Berebut mainan
6.      Rendahnya keterampilan sosialisasi
7.      Dikucilkan oleh teman
8.      Tidak perduli dengan orang lain/teman
9.      Bullying di sekolah dan lingkungan bermain
10.  Perkelahian di sekolah

I.             PERKEMBANGAN EMOSI PADA ANAK
         Sejak dahulu telah ada usaha yang dilakukan oleh orang tua untuk mendidik anak-anak mereka sejak dalam kandungan maupun setelah lahir. Apa yang diberikan oleh orang tua akan merupakan pengalaman awal sang anak yang akan mempengaruhi kepribadian anak selanjutnya. Hal ini seperti dikatakan dalam teori John Locke yaitu “empirisme” bahwa manusia lahir bagaikan kertas putih, akan seperti apakah anak tersebut kelak, akan sangat tergantung dari apa yang dituliskan di atasnya, yang berarti pengalaman yang didapatkan anak termasuk faktor pendidikan dan pola asuh orang tua menjadi bahan tulisan yang akan mewarnai kehidupan serta kualitas diri anak tersebut, yang paling mewarnai dari tulisan itu adalah tulisan yang pertama yang dilakukan oleh orang tuanya.
         Jika kita mengamati tumbuh kembang seorang anak, maka kita akan sering menemukan hal-hal baru yang mengagumkan dan yang seringkali justru menimbulkan dorongan-dorongan baru untuk mempelajari lebih lanjut apa yang terjadi pada anak-anak. Perkembangan anak pada dasarnya adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam seluruh dimensi yang ada dalam diri anak baik dimensi fisik, dimensi social, dimensi emosi, kognitif dan dimensi spiritual.
A.             MEKANISME EMOSI
           Menurut Lewis and Rose ada 5 tahapan di dalam proses terjadinya emosi di dalam diri seseorang, yaitu :


1.            Elicitors yaitu adanya dorongan peristiwa yang terjadi.
           Contoh : peristiwa gempa bumi, hal ini akan menimbulkan perasaan emosi tertentu pada  seseorang.
2.            Receptors yaitu kegiatan yang berpusat pada system syaraf
Contoh : akibat adanya peristiwa banjir maka berfungsi sebagai indera penerima.
3.            State yaitu perubahan spesifik yang terjadi dalam aspek fisiologi.
Contoh : gerakan reflex atau terkejut pada sesuatu yang terjadi.
4.            Expression yaitu terjadinya perubahan pada rasiologis.
Contoh : tubuh tegang pada saat tatap muka
5.            Experience yaitu persepsi dan inter individu pada kondisi emosionalnya.
Menurut Syamsudin kelima komponen tadi digambarkan dalam 3 variabel :
1.            Variable stimulus yaitu rangsangan yang menimbulkan emosi
2.            Variable organismik yaitu perubahan fisiologis yang terjadi saat mengalami emosi
3.            Variable respon yaitu ekspresi yang keluar atas terjadinya pengalaman emosi.
Adapun fungsi dan peranan adanya emosi pada perkembangan anak yaitu :
a)            Emosi merupakan bentuk komunikasi
b)            Emosi berperan dalam mempengaruhi kepribadian dan penyesuaian diri anak dengan lingkungan sosialnya.
c)            Emosi dapat mempengaruhi iklim psikologis lingkungan.
d)           Tingkah laku yang sama dan ditampilkan secara berulang dapat menjadi satu kebiasaan.
e)            Ketegangan emosi yang dimiliki anak dapat menghambat aktivitas motorik dan mental anak.
B.           PERKEMBANGAN EMOSI
         Menurut Mayer & Salovey (1997) ada beberapa dimensi emotional intelligence yang dikenal dengan sebutan four branch model of emotional intelligence. Ada 4 dimensi emotional intelligence, yaitu :
1.            Persepsi Emosi (Empotional Perception)
         Yaitu kemampuan individu untuk mengenali emosi, baik yang dirasakan oleh diri sendiri maupun oleh orang lain. Sejak bayi sampai dengan awal masa kanak-kanak, anak mulai belajar untuk mengidentifikasi serta membedakan emosi yang dirasakan oleh diri sendiri dan orang lain. Pada awalnya, bayi akan belajar untuk membedakan emosi berdasarkan ekspresi wajah yang ditampilkan, kemudian memberikan respon terhadap reaksi tersebut. Semakin bayi tersebut besar maka ia akan semakin akurat dalam mengidentifikasi sensasi tubuh yang dirasakannya baik oleh dirinya maupun oleh lingkungannya. Pada perkembangannya anak akhirnya mulai memberikan atribut mengenai perasaan pada benda hidup maupun benda mati. Ia akan menggunakan pengalamannya pada saat merasakan sensasi tertentu dalam mengenali sensasi yang dirasakan oleh orang lain.
         Kemudian kemampuan individu ini dalam memahami emosi yang dirasakannya sampai pada tahap ia mampu mengekspresikan perasaan secara akurat dan mengekspresikan kebutuhan akan perasaannya. Ia juga akan menjadi lebih sensitive terhadap ekspresi emosi yang tidak sesuai atau yang dimanipulasi.
2.            Integrasi Emosi (Emotional Integration)
         Adalah kemampuan individu dalam memanfaatkan sensasi emosi yang dirasakan untuk menghadapi masalah-masalah yang berkenaan dengan system kognisi. Emosi bertindak sebagai suatu system yang memberikan tanda atau sinyal-sinyal tertentu sejak lahir. Semakin matang, sinyal-sinyal tersebut mulai dapat dimanfaatkan dalam aktivitas kognisi yaitu dengan cara mengarahkan perhatian pada hal-hal yang penting.
         Individu akan mencoba untuk menempatkan dirinya pada posisi orang lain yang merasakan sensasi emosi tertentu dan mencoba untuk merasakan emosi tersebut pada dirinya sendiri ketika dimintai pendapat mengenai emosi yang dirasakan oleh suatu karakter pada sebuah cerita atau pada saat diminta untuk menentukan emosi yang dirasakan oleh orang lain. Dengan kata lain terdapat sebuah proses dimana emosi dapat dihasilkan, dirasakan, dimanipulasi serta diuji sehingga emosi tersebut dapat lebih mudah untuk dipahami. Semakin akurat individu merasakan sensasi emosi dan semakin ralistis proses tersebut terjadi, individu akan semakin terbantu untuk melakukan pilihan-pilihan dalam kehidupan.
3.            Pemahaman Emosi (Emotional Understanding)
         Adalah kemampuan individu untuk memahami emosi yang dirasakan dan dapat menggunakan pengetahuan mengenai emosi yang dirasakan untuk mengetahui bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Setelah individu menyadari emosi yang dirasakan, ia mulai untuk memberi nama dan menyadari hubungan yang terjadi diantara emosi-emosi yang telah ia beri nama serta menyadari persamaan dan perbedaan yang mendasari terjadinya emosi tersebut.
         Secara bersamaan, individu juga belajar untuk memahami emosi yang dirasakan pada saat ia berinteraksi dengan orang lain. Pengetahuan mengenai emosi yang dirasakan sejak masa kanak-kanak ini akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu, dimana individu akan semakin memahami arti dari emosi-emosi tersebut. Individu mulai menyadari adanya emosi yang kompleks dan kontradiktif pada beberapa situasi tertentu dimana kombinasi atau percampuran antara beberapa emosi sudah mulai terbentuk. Emosi biasanya terbentuk seperti rangkaian rantai yang berpola. Misalnya rasa marah akan diikuti dengan perilaku marah-marah yang diekspresikan, kemudian akan diikuti dengan rasa puas atau perasaan bersalah, tergantung pada situasi yang sedang ia hadapi. Maka individu akan memiliki alasan tersendiri pada saat ia menampilkan suatu urutan emosi.
4.            Pengaturan Emosi (Emotional Management)
Adalah kemampuan individu di dalam memadukan data-data mengenai emosi yang dirasakan oleh diri sendiri maupun orang lain untuk menentukan tingkah laku yang paling efektif yang akan ditampilkan pada saat berinteraksi dengan orang lain. Individu diharapkan terbuka dan memiliki toleransi pada reaksi emosi yang timbul, baik reaksi emosi yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Hal ini dapat menjadi pembelajaran untuk dapat melakukan regulasi emosi ketika merasakan sensasi emosi yang sama dalam suatu situasi tertentu.
Anak akan menginternalisasikan pembagian antara perasaan dan tindakan. Anak mulai belajar bahwa emosi dapat dipisahkan dari tingkah laku. Hal ini akan membantu individu untuk dapat menampilkan tingkah laku yang sesuai dengan tuntutan lingkungan meskipun ia merasakan sensasi emosi yang tidak menyenangkan. Semakin matang maka individu akan semakin mampu untuk meregulasi emosi yang dirasakan. Dengan demikian pengaturan emosi individu dikatakan optimal bila ia mampu untuk mengatur dan memahami emosi yang dirasakan tanpa perlu membesar-besarkan atau meminimalisir kepentingannya.




































BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
         Masa anak-anak merupakan masa yang sangat signifikan dalam perkembangan kehidupan manusia. Seperti dikatakan oleh Freud dan John Locke, mereka mengatakan bahwa masa lima tahun pertama manusia yaitu masa anak-anak merupakan masa yang menentukan bagaimana ia menjalani kehidupan selanjutnya.
         Masa anak ini adalah masa yang sangat rentan terhadap hal-hal negative yang dapat mengganggu perkembangan individu. Jika tugas-tugas perkembangan pada masa anak tidak dapat dipenuhi oleh individu, maka pada tahap-tahap perkembangan selanjutnya individu akan mengalami masalah. Masalah-masalah emosional pada anak dewasa ini cukup banyak dan hal itu yang menjadi keluhan dari para orang tua, seperti ekspresi emosi yang tidak tepat, kecemburuan pada sibling yang berlebihan, dll.
         Adapun solusi dalam mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut sebenernya adalah :
1.            Dari awal sudah mengenalkan anak akan perasaannya maupun ekspresi perasaannya.
2.            Melatih anak untuk mengenali perasaannya.
3.            Mengintegrasikan perasaan-perasaannya.
4.            Memahami perasaan anak saat ia menemui hambatan-hambatan ataupun masalah-masalah.
5.            Membantunya untuk mengatasi perasaan yang dia rasakan saat dia menemui masalah dan hambatan tersebut.
6.            Tidak menghakimi dia akan perasaan yang dia rasakan dan temui ketika ada masalah tersebut.
7.            Membantu dia memberi keyakinan dan menumbuhkan rasa kepercayaan pada dirinya untuk berani mengungkapkan perasaan yang dia rasakan dan apa yang jadi pendapatnya.
         Ke semua ini akan membantu anak dalam bersosialisasi dengan orang lain. Orang tua juga harus menyadari bahwa ia adalah figure panutan bagi anak, sehingga apapun yang dilakukan oleh orang tua akan mereka jadikan contoh bagi kehidupannya kelak. Oleh karenanya pemahaman dan keterampilan kecerdasan emosional sebaiknya dipahami dan dicontohkan oleh orang tua agar anak memiliki role model yang positif. Jika perkembangan emosi seseorang yang dimulai dari sejak dini sudah berkembang dengan optimal dan sesuai dengan perkembangan usianya maka tingkat pengontrolan emosinya akan bisa berkembang dengan optimal pula dan pemahamannya terhadap kepribadiannya akan jauh lebih baik dan meningkat seiring dengan usianya tersebut. Dia tidak akan banyak kesulitan dalam mengatasi dan menyelesaikan hambatan-hambatan yang ia dapatkan pada setiap fase-fase yang ia lewati.
B.  KRITIK DAN SARAN.
Kritik dan saran dari para pembaca selalu saya harapkan demi kesempurnaan penyusunan makalah berikutnya, demikian yang dapat saya paparkan kurang lebihnya mohon maaf.
































DAFTAR PUSTAKA

1.       Hurlock, Elizabeth. B.1980. Developmental Psychology A life Span Approach, fifth edition. New Delhi : Tata McGraw-Hill Publishing Company Ltd.
2.      Hall, Lindzey & Campbell. 1998. Theories of Personality, fourth edition. New York : John Wiley & Sons, Inc.
3.      Salovey, P. bracket & Mayer, M.A.2004. Emotional Intelligence. New York : National Professional Resources, Inc.
4.      Purba, Frederick Dermawan, S.Psi. 2007. Makalah Mengembangkan Kecerdasan Emosional Pada Anak. Surabaya : Temu Ilmiah IPPI – IPS Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.
5.      Valmband, 2008. Artikel : Perkembangan Emosi.
6.      Reza, Muhammad. Maisarah. Arif Maulana R, Ronaldo A.P. Frista Adytia, 2010. Artikel : Hambatan Perkembangan Emosi Pada Anak Dan Intervensi, Psiko – News.