Jumat, 03 Januari 2014

MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN



BAB I
PENDAHULUAN

Pengetahuan dan keterampilan sebagai hasil belajar pada masa lalu seringkali mempengaruhi proses belajar yang sedang dialaminya sekarang. Inilah yang disebut transfer dalam belajar.
Transfer belajar yang lazim disebut transfer belajar (transfer of learning) itu mengandung arti pemindahan keterampilan hasil belajar dari satu situasi ke situasi lainnya (Reber 1988). Kata pemindahan keterampilan tidak berkonotasi hilangnya keterampilan melakukan sesuatu pada masa lalu karena diganti dengan keterampilan baru pada masa sekarang. Oleh karena itu, definisi diatas harus dipahami sebagai pemindahan pengaruh atau pengaruh keterampilan melakukan sesuatu terhadap tercapainya keterampilan melakukan sesuatu yang lainnya.
Peristiwa pemindahan pengaruh (transfer) sebagaimana tersebut di atas pada umumnya atau hampir selalu membawa dampak baik positif maupun negatif terhadap aktivitas dan hasil pembelajaran materi pelajar atau keterampilan lain. Sehingga, transfer dapat dibagi menjadi dua kategori, yakni transfer positif dan transfer negaif.
Menurut Theory of Indentical Element yang dikembangkan oleh E.L. thorndike, transfer positif biasanya terjadi karena ada kesamaan elemen antara materi yang lama dengan materi yang baru. Sedangkan transfer negatif, yaitu keterampilan yang sebelumnya sudah dimiliki menjadi penghambat belajar keterampilan yang baru atau lainnya. Dapatkah teori E.L. thorndike ini kita jadikan pedoman dalam memahami transfer dalam memahami transfer belajar yang hakiki?
Selanjutnya, menurut Gegne (baca: Gaenye) seorang education psychologist (pakar psikologi pendidikan) yang masyhur, transfer dalam belajar dapat digolongkan kedalam empat kategori.
1.       Transfer positif
2.       Transfer negatif
3.       Tranfer vertikal
4.       Transfer lateral




BAB II
PEMBAHASAN

A.    RAGAM TRANSFER BELAJAR
1.   Transfer Positif
Transfer positi menurut Gagne (baca: Gagne), yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan kegiatan belajar selanjutnya. sedangkan menurut Barlow (1985) adalah learning in one situation helpful in other situations,, yakni belajar dalam suatu situasi yang dapatmembantu belajar dalam situasi-situasi lain.
2.     Transfer negatif
Transfer negatif menurut Gagne (baca: Gagne), yaitu transfer yang berefek buruk terhadap kegiatan belajar selanjutnya sangat bertentangan dengan teori Daniel Lenox Barlow yang menyatakan bahwa transfer negatif dapat dialami seorang siswa apabila ia belajar dalam situasi tertentu yang memiliki pengaruh merusak terhadap keterampilan/ pengetahuan yang dipelajari dalam situasi-situasi lainnya. Pengertian ini diambil dari Educational Psychologi: The Teaching-Learning Process oleh Daniel Lenox Barlow (1985) yang menyatakan bahwa transfer negatif itu berarti, learning in one situation has a damaging effect in other situation.
Dengan demikian, di dalam teori Daniel Lenox Barlow pengaruh keterampilan atau pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa sendiri tidak ada hubungannya dengan kesulitan yang dihadapi oleh siswa tersebut ketika mempelajari pengetahuan atau keterampilan lainnya. Menghadapi kemungkinan terjadinya transfer negatif itu, yang penting bagi guru ialah menyadari dan sekaligus menghindarkan para siswanya dari situasi-situasi belajar tertentu yang diduga keras akan berpengaruh negatif terhadap kegiatan belajar para siswa tersebut pada masa yang akan datang.
3.     Tranfer Vertikal
Transfer vertika (tegak lurus) dapat terjadi dalam diri seorang siswaapabila pelajaran yang telah dipelajari dalam situasi tertentu membantu siswa tersebut dalam menguasai pengetahuan atau keterampilan yang lebih tinggi atau lebih rumit.
Agar memperoleh transfer vertikal, guru sangat dianjurkan untuk menjelaskan kepada para siswa secara eksplisit mengenai faidah materi yang sedang diajarkannya bagi kegiatan belajar materi lainnya yang lebih kompleks. Upaya ini penting sebab kalau siswa tidak memiliki alasan yang benar mengapa ia harus mempelajari materi yang sedang diajarkan gurunya itu (antara lain untuk transfer vertikal), mungkin ia tidak akan mampu memanfaatkan materi tadi untuk mempelajari materi lainnya yanglebih rumit. Padahal, learning in one situation allaws mastery of more complex skill in other situation (Barlow, 1985) yang artinya bahwa belajar dalam suatu situasi memungkinkan siswa menguasai keterampilan-keterampilan yang lebih rumit dalam situasi yang lain.
4.     Transfer Lateral
Transfer lateral, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan atau keterampilan yang sederajat. Transfer lateral (ke arah samping) dapat terjadi dalam diri seorang siswa apabila ia mampu menggunakan materi yang telah dipelajarinya untuk mempelajari materi yang sama kerumitannya dalam situasi-situasi yang lain.

B.    TERJADINYA TRANSFER POSITIF DALAM BELAJAR
Diatas telah diuraikan secukupnya mengenai arti tranfer positif dan signifikansinya bagi kegiatan belajar siswa. Namun, bagaimanakah sebenarbya transfer positif itu terjadi dalam diri siwa? Benarkah siswa akan mudah mempelajari materi “Y” karena mengandung unsur yang identik dengan materi “X” yang telah dikuasai?
Transfer positif, seperti yang telah diutarakan di muka, akan mudah terjadi pada diri seorang siswa apabila situasi belajarnya dibuat sama atau mirip dengan situasi sehari-hari yang akan ditempati siswa tersebut kelak dalam mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang telah ia pelajari di sekolah. Transfer positif dalam pengertian seperti inilah sebenarnya yang perlu diperhatikan guru, mengingat tujuan pendidikan secara umum adalah terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas. Kualitas inilah yang didapatkan dari lingkungan pendidikan untuk digunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, menurut teori yang dikembangkan Thorndike, seperti yang telah disinggung di muka, transfer positif hanya akan terjadi apabila dua materi pelajaran memiliki kesamaan unsur,. Teori kesamaan unsur ini telah memberi pengaruh besar terhadap pola pengembangan kurikulum di Amerika Serikat beberapapuluh tahun yang lalu (Cross, 1974).
Hal-hal seperti kesamaan dan benda-benda yang digunakan untuk belajar sebagaimana tersebut dalam teori Gagne, tidak dianggap berpengaruh. Untuk memperkuat asumsinya, Thorndike memberi contoh, jika anda telah memecahkan masalah geometri (ilmu ukur) yang mengandung sejumlah huruf tertentu sebagai petunjuk, maka ... you would not be to transfer a geometry problem with a different set of letter (Anderson, 1990), Anda tidak dapat mentransfer kemampuan memecahkan masalah geometri itu untuk memecahkan masalah geometri lainnya yang menggunakan huruf yang berbeda.
Dalam perspektif psikologi kognitif masa kini, mekanisme transfer positif ala Thorndike yang telah terlanjur diyakini banyak pakar itu ternyata hanya isapan jempol belaka. Singly dan Anderson (1989) dan Anderson (1990) misalnya, sangat meragukan teori yang menganggap transfer sebagai peristiwa spontan dan mekanis (asalada kesamaan elemen) seperti yang diyakini orang selama ini.  Keraguan ini timbul karena ahli kognitif (kognitivitist) telah banyak menemukan peristiwa transfer positif yang sangat mencolok antara kedua keterampilan yang memiliki unsur yang sangat berbeda, namun memiliki struktur logika yang sama.
Sesungguhnya transfer itu merupakan peristiwa kognitif (ranah cipta/ akal) yang terjadi karena belajar. Jadi, belajar dalam hal ini seyogianya dipandang sebagai keadaan sebelum transfer atau prasyarat adanya transfer. Dengan demikian, anggapan bahwa transfer itu spontan dan mekanis (seperti mesin atau robot) sebenarnya berlawanan pada hakikat belajar itu sendiri, yaitu perbuatan siswa yang sedikit atau banyak selalu melibatkan aktivitas ranah kognitif.
Bagaimana pula hanya dengan transfer negatif yang sering dihawatirkan orang itu? Transfer negatif, menurut Anderson (1990) dan Lawson (1991) tidak perlu dirisaukan lantaran sangat jarang terjadi.
Sebagai catatan, perlu diutarakan pula peristiwa belajar yang secara lahiriah tampak seperti transfer tetapi sesungguhnya bukan transfer (baca, psikologi pendidikan: 169).

C.    KESULITAN BELAJAR DAN ALTERNATIF PEMECAHANNYA
Setiap siswa pada prinsipnya tentu berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik (academic performence) yang memuaskan. Namun dalam kenyataan sehari-hari tampak jelas bahwa siswa itu memiliki perbedaan dalam hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiasaan dan pendekatan belajar yang tekadang sangat mencolok antara seorang siswa dengan siswa lainnya.
Sementara itu, penyelenggara pendidikan di sekolah-sekolah kita pada umumnya hanya ditunjukan kepada para siswa yang berkemampuan rata-rata, sehingga siswa yang berkemampuan lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan.
1.   Faktor-faktor Kesulitan Belajar
Fenomena kesulitan belajar seorang siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya kinerja akademik atau prestasi belajarnya. Namun, kesulitan belajar juga dapat dibuktikan dengan munculnya kelainan perilaku (misbehavior) siswa sering berteriak-teriak di dalam kelas, mengusik teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah, dan sering minggat dari sekolah.
Secara garis besar, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam.
1.     Faktor intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang murni dari dalam diri manusia sendiri.
2.     Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar siswa.
Kedua faktor ini meliputi aneka ragam hal dan keadaan yang antara lain tersebut di bawah ini.
A.      Faktor Intern Siswa
Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekurangmampuan psikofisik siswa, yakni:
1)     yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/inteligensi siswa;
2)     yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap;
3)     yang bersifat psikomotor (ranah rasa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indra penglihatan dan pendengar (mata dan telinga).
B.    Faktor Ekstern Siswa
Faktor ekstern siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa. Faktor ini dapat dibagi tiga macam.
1.     Lingkungan keluarga, contohnya: ketidak harmonisan hibungan antara ayah dan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
2.     Lingkungan perkampungan/masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan teman sepermainan (peer group) yang nakal.
3.     Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah.
Selain faktor-faktor yang bersifat umum diatas, ada pula faktor-faktor lain yang juga menimbulkan kesulitan belajar siswa. Di antara faktor-faktor yang dapat dipandang sebagai faktor khusus ini ialah sindrom psikologis berupa learning disability (ketidakmampuan belajar). Sindrom (syndrome) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis (Rober, 1988) yang menimbulkan kesulitan belajar itu.
a.      Disleksia (dyslexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca.
b.     Disgrafia (dysgraphia), yakni ketidakmampuan belajar menulis
c.      Diskalkulia (dyscalculia), yakni ketidakmampuan belajar matematika.
Akan tetapi, siswa yang mengalami sindrom-sindrom diatas secara umum sebenarnya memiliki potensi IQ yang normal bahkan diantaranya ada yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Oleh karenanya, kesulitan belajar siswa yang menderita sindrom-sindrom tadi mungkin hanya disebabkan oleh adanya minimal brain dysfuntion, yaitu gangguan ringan pasa otak (Lask, 1985: Reber, 1988).
2.   Diagnosis Kesulitan Belajar
Sebelum menetapkan alternatif pemecahan masalah kesulitan belajar siswa, guru sabgat dianjurkan untuk terlebih dahulu melakukan identifikasi (upaya mengenali gejala dengan cermat) terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang melanda siswa tersebut. Upaya seperti ini disebut diagnosis yang bertujuan menetapkan jenis penyakit” yakni jenis kesulitan belajar siswa.
Banyak langkah diagnosis yang dapat ditempuh guru, antara lain yang cukup terkenal adalah prosedur Weener & Senf (1982) sebagaimana yang dikutip Wardani (1991) sebagai berikut.























BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dapat kami simpulkan dari apa yang telah dipaparkan pada keterangan sebelumnya, bahwa Transfer belajar yang lazim disebut transfer belajar (transfer of learning) itu mengandung arti pemindahan keterampilan hasil belajar dari satu situasi ke situasi lainnya (Reber 1988). Kata pemindahan keterampilan tidak berkonotasi hilangnya keterampilan melakukan sesuatu pada masa lalu karena diganti dengan keterampilan baru pada masa sekarang.
Sedangkan untuk belajar kesulitannya meliputi factor-faktor sebagaimana berikut.
1.     Faktor intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang murni dari dalam diri manusia sendiri.
2.     Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar siswa.

B. KRITIK DAN SARAN
Kritik dan saran selalu kami harapkan dari kalangan pembaca baik dari kalangan dosen pembimbing maupun dari kalangan teman-teman mahasiswa untuk kesempurnaan penyusunan berikutnya.
















DAFTAR PUSTAKA

Purwanto, Ngalim. “Psikologi Pendidikan”.2004. Rosda Karya . Bandung.
Dr. H. Mahmud, MSi. “Psikologi Pendidikan”. 2010 Pustaka Setia.
Suryabrata, Sumadi. “Psikologi Pendidikan”. 2010 Raja Grafinda Persada.